Grebeg Syawal, Ribuan Masyarakat Padati Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati

Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

DEJABAR.ID, CIREBON – Ribuan warga tampak memadati Kompleks Astana Gunung Sembung atau Komplek Makam Sunan Gunung Jati, untuk memperingati tradisi Grebeg Syawal, yang jatuh pada tanggal 8 Syawal tahun Hijriah, atau seminggu setelah Lebaran Idul Fitri, Rabu (12/6/2019). Tradisi ini sudah dilakukan setiap tahunnya dan sudah ada sejak dahulu kala.

Mereka bertujuan untuk berziarah ke makam-makam tokoh Cirebon yang disemayamkan di situ, seperti Sunan Gunung Jati. Namun, masyarakat biasa tidak diperbolehkan memasuki ke dalam area komplek Sunan Gunung Jati yang terletak di bagian dalam. Mereka hanya diperbolehkan sampai di Pintu Pasujudan di bagian luar, pintu masuk menuju area makam Sunan Gunung Jati dan keluarganya. Yang diperbolehkan masuk ke dalam hanyalah keluarga keraton.

Meskipun begitu, hal tersebut tidak menyurutkan warga untuk tetap berziarah ke makam Sunan Gunung Jati. Keramaian mulai terlihat pada pagi hari. Mereka datang ada yang berkelompok dalam satu bis, satu mobil, atau dalam kelompok-kelompok kecil dalam satu keluarganya. Mereka kompak mengenakan pakaian busana muslim seperti baju Koko, kopiah atau peci, dan sarung untuk peziarah. Sedangkan untuk wanita berpakaian tertutup dan berkerudung.

Di depan Pintu Pasujudan yang dibuka tersebut, masyarakat hanya bisa memanjatkan doa-doa. Ada juga yang melemparkan uang dan bunga tujuh rupa. Tujuannya adalah mengharap berkah dan dimudahkan segala urusannya. Tampak antrian mengular di sekitar Pintu Pasujudan. Uniknya, masyarakat harus melepaskan alas kakinya ketika mulai memasuki komplek. Hal tersebut bertujuan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang disemayamkan di situ.

Selain menziarahi makam Sunan Gunung Jati, masyarakat juga menziarahi makam-makam tokoh lain yang disemayamkan di sekitar makam Sunan Gunung Jati, seperti makam Ki Gede Srengseng, Ki Gede Cangkring, dan lain-lain yang jumlahnya sekitar ratusan makam. Untuk sampai ke komplek pemakaman ini, peziarah harus memasuki pintu yang hanya dibuka pada hari-hari tertentu saja, seperti Grebeg Syawal dan Grebeg Agung. Sehingga, hal ini merupakan momen berharga untuk bisa berziarah ke komplek pemakaman para leluhur Cirebon tersebut.

Menurut salah seorang peziarah, Ahmad asal Plered Kabupaten Cirebon, dirinya dan rombongan sekeluarga kerap mendatangi komplek Pemakaman Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung. Apalagi di momen Syawalan ini, pintu-pintu menuju makam tokoh-tokoh Cirebon dibuka. Sehingga, ini merupakan kesempatan untuk berziarah.

“Saya biasanya setiap malam Jumat Kliwon ziarah ke sini. Mumpung sekarang dibuka pintunya, saya dan keluarga sengaja ziarah ke sini,” jelasnya, Rabu (12/6/2019).

Hal yang sama dituturkan oleh Nalim, yang datang jauh-jauh dari Banten bersama keluarga, demi berziarah ke komplek Pemakaman Sunan Gunung Jati. Dirinya berharap, dengan berziarah ke sini, bisa mengharapkan berkah, ampunan, dan diberikan kemudahan rezeki.

“Saya bersama rombongan menghadap berkah dari sosok Sang Wali,” pungkasnya.

Tradisi Grebeg Syawal ini menjadi wisata religi di wilayah Kabupaten Cirebon. Karena, bukan hanya warga Cirebon dan sekitarnya saja yang datang, melainkan dari daerah jauh pun datang, seperti dari Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagainya.(Jfr)

Related posts

Leave a Comment