Mengintip Rangkaian Prosesi Grebeg Syawal Keraton Kanoman Cirebon

Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

DEJABAR.ID, CIREBON – Setiap memasuki 7 hari setelah Lebaran Idul Fitri, atau tepatnya 8 Syawal, Keraton Kanoman Cirebon kerap melaksanakan tradisi Grebeg Syawal ke makam Raja-Raja Kesultanan Kanoman yang telah wafat dan disemayamkan di komplek Astana Gunung Sembung atau komplek makam Sunan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon.

Menurut Juru Bicara Keraton Kanoman Cirebon, Ratu Raja Arimbi Nurtina, Grebeg Syawal merupakan tradisi yang menjadi prosesi ritual Kesultanan Kanoman Cirebon yang sudah ada sejak beberapa abad lalu. Prosesi ritual yang ditahbiskan atau disucikan ini dalam bentuk “pengakuan” terhadap silsilah para leluhur dan perhelatan (Kenduri/Selametan atas rasa syukur) yang berisi doa kepada para Raja-raja Cirebon, khususnya Raja-raja Kesultanan Kanoman yang telah wafat.

Di tahun 2019 ini, lanjutnya, Kesultanan Kanoman Cirebon melaksanakan ritual Grebeg Syawal yang dipimpin oleh Sultan Kanoman XII Sultan Raja Muhammad Emirudin yang dalam hal ini diwakili oleh Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran, Patih Kesultanan Kanoman.

“Esensi prosesi ritual ini merupakan ziarah kubur (Nyekar) Sultan Kanoman XII, Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin bersama segenap keluarga dan kerabat Kesultanan Kanoman ke makam Raja-Raja Kesultanan Kanoman yang telah wafat dan disemayamkan di komplek Astana Gunung Sembung,” jelasnya, Rabu (12/6/2019).

Arimbi melanjutkan, prosesi ini diawali dengan berkumpulnya para keluarga dan kerabat Kesultanan Kanoman di Pendopo Jinem atau Bangsal Jinem keraton kanoman. Pada pukul 06.30 WIB, Sultan Raja Muhammad Emirudin beserta keluarga dan kerabat Kesultanan Kanoman berangkat dari Pendopo Jinem Keraton Kanoman dan diperkirakan sampai di Astana Gunung Sembung sekitar pukul 07.00 WIB.

Sesampainya di Astana Gunung Sembung, lanjutnya, Sultan Raja Muhammad Emirudin memasuki Kori (pintu) Gapura, yakni pintu pertama yang ada di dekat alun-alun dan Kori (pintu) Krapyak. Kedua Kori tersebut merupakan pintu gerbang dari pintu-pintu yang akan dilalui Sultan Raja Muhammad Emirudin beserta segenap keluarga dan kerabat Kesultanan Kanoman, kemudian memasuki pintu tujuh (Lawang Pitu) Giri Nur Saptarengga.

“Ketujuh pintu itu antara lain pintu Pasujudan, yakni pintu yang biasa para peziarah umum berdoa dan bertawasul. Kemudian memasuki pintu Ratna Komala, pintu Jinem, pintu Rararoga, pintu Kaca, pintu Bacem, baru kemudian ke pintu yang ke 9 yakni pintu Teratai, menuju ruangan dalam pesarean Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang berada di puncak bukit Gunung Sembung (Giri Nur Saptarengga),” tuturnya.

Di ruangan dalam pesarean, lanjut Arimbi, Sultan Raja Muhammad Emirudin bersama keluarga dan kerabat kesultanan melakukan tahlil, dzikir, serta berdoa di makam-makam leluhur Cirebon yang ada di dalam Gedung Jinem.

Di dalam Gedung Jinem ini terdapat makam Kanjeng Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah) yang berdampingan dengan makam ibundanya (Ratu Mas Rarasantang atau Nyai Mas Panatagama Syarifah Mudaim) dan makam para leluhur yang selama ini, dikenal sebagai tokoh Cirebon. Di antaranya, Pangeran Cakrabuana (kakak Ratu Mas Rarasantang), Fatahillah (menantu Sunan Gunung Jati), Pangeran Pasarean (Putera Sunan Gunung Jati), Pangeran Dipati Carbon, Pangeran Brata Kelana, Syarifah Mudaim, Nyi Mas Tepasari, Puteri Ong Tien Nio, dan tokoh-tokoh lain.

Setelah itu, Sultan Raja Muhammad Emirudin melanjutkan tahlil, dzikir, dan berdoa di makam Panembahan Ratu I (Cicit Kanjeng Sunan Gunung Jati) dan makam Sultan-Sultan Cirebon. Lalu beristirahat sejenak di Balai Laras atau Lunjuk. Sultan Raja Muhammad Emirudin dengan diikuti keluarga serta rombongan peziarah kemudian keluar dari Mergu atau lokasi pemakaman yang biasa digunakan warga Tionghoa berziarah dan berdoa sebagai bagian dari penghormatan terhadap Puteri Ong Tien Nio.

Prosesi berikutnya, Sultan Kanoman XII Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin menuju Pesanggrahan Kanoman untuk jeda istirahat dan mencicipi hidangan jamuan makan yang disediakan Jeneng serta Kraman Astana Gunung Sembung.

Seusai jamuan makan, Sultan Kanoman XII Sultan Raja Muhammad Emirudin dengan keluarga secara simbolis melakukan tradisi surak atau saweran (membagikan uang) kepada masyarakat yang ada di sekitar komplek pemakaman.

“Beberapa saat setelah itu, rangkaian prosesi ritual ditutup oleh Sultan Kanoman XII Sultan Raja Muhammad Emirudin, segenap keluarga serta kerabat Kesultanan menuju Lawang Pasujudan untuk pamit pulang kembali ke Keraton Kanoman,” pungkasnya.(Jfr)

Related posts

Leave a Comment