Prihatin! Jumlah Penderita HIV/AIDS di Subang Lebih dari 2000 Orang

Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

DEJABAR.ID, SUBANG – Prihatin, Kabupaten Subang berada di posisi keempat  dengan jumlah Penderita HIV/Aids tertinggi di Jawa Barat. Jumlah penderita HIV/AIDS di Subang dari 1999 hingga 2019 ini tembus 2006 orang. Perilaku seks menjadi penyebab tertinggi munculnya penderita baru di Kabupaten Subang.

Hal ini mengemuka pada Rapat Koordinasi dan Evaluasi Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Subang di Grand Hotel, Rabu (08/05/2019). Wakil Bupati Subang Agus Masyur Rosyadi mengatakan, pada saat ini Subang menempati posisi ke-empat pengidap HIV/Aids di Jabar.

“Inilah yang perlu menjadi kepedulian kita untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat yang belum memahami bagaimana pencegahan dan penanggulangan HIV/Aids termasuk stigma yang berkelanjutan,” kata Wakil Bupati.

Wabup menegaskan, KPA harus melakukan upaya-upaya kongkrit guna menekan jumlah penderita HIV/Aids secara bertahap dan terencana serta perlu meningkatkan kemampuan menerjemahkan langkah-langkah pencegahan dan penanggulangannya, agar terwujud Getting 3 (three) Zero.

“Saya yakin dan percaya saudara akan mampu melakukan tugas-tugas tersebut dengan baik, dan berharap selalu berkoordinasi dengan KPA sebagai satuan administrasi pangkal dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Subang,” tegasnya.

Sekretaris KPA Subang dr Encep Sugiana mengatakan, dalam menekan dan mengurangi angka HIV/AIDS di Subang pihaknya sudah menetapkan program STOP, yakni S: suluh atau penyuluhan sosialisasi dan penejlasan HIV/AIDS dan Bahayanya, T: Test, untuk mengetahui warga terkena virus HIV/AIDS, O: Obati, yakni memberi obat anti viral ARV untuk memperlambat penyebaran virus dan menjaga kekebalan tubuh, dan P atau pertahankan gaya hidup sehat.

Di luar itu perlu optimalisasi peran KPA. Dengan anggotanya sebanyak 40 orang dari berbagai intansi, diharapkan lebih aktif berperan dalam penaggulangan HIV/AIDS dengan koordinasi KPA. Tidak terkecuali dengan peran pemerintah, dalam hal terkait perhatian pada upaya merealisasikan Program STOP.

“Pemerintah lebih proaktif terutama Dinkes, RSUD, Dinsos dam lain-lain untuk bersama-sama KPA melaksanakan program STOP ini sehingga lebih banyak kasus ditemukan lebah banyak yang diobati sehingga bisa menekan angka penularan,” katanya.

Disdik dan Depag, tambah Encep, memiliki peran besar dalam memberikan penyadaran pada masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS.

“Terutama dikalangan remaja dan dewasa muda dimana menurut data kasusnya banyak terjadi di usia tersebut,” pungkasnya.(Ahy)

Related posts

Leave a Comment