Program Dokter Muda UKI Intervensi Potensi Stunting Lebih Dini

Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

dejabar.id, Sumedang – Dokter muda dari Pelayanan Kesehatan Masyarakat – Universitas Kristen Indonesia (PKM – UKI) Angkatan VIII kembali menggelar program upaya mengurangi angka stunting (gagal tumbuh).

Ketua PKM UKI Angkatan VIII, Eriza Luthfiansyah menjelaskan, dengan mengusung tema Indonesia Tanpa Stunting (Insting), kali ini dokter muda yang dilibatkan sebanyak 39 orang. Ke-39 dokter muda ini masing-masing akan ditempatkan 3-4 orang di setiap desanya.

Mereka akan melakukan intervensi program ke 10 desa yang ditetapkan oleh Tim Penanganan dan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) yang dikomandoi oleh Wapres Jusuf Kalla.

“Kita akan melakukan pra konsepsi kepada masyarakat awam. Sehingga upaya intervensi yang kita lakukan kali ini betul-betul lebih awal seperti ke siswa/i SMP-SMA, kita akan edukasi lebih awal,” terang Eriza usai pembukaan PKM di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Senin (2/9/19).

Adapun intervensi yang dilakukan bukan sekedar penyuluhan kepada warga maupun pelajar. Namun pihaknya akan mencari alternatif penyuluhan lainnya supaya lebih menyenangkan dan betul-betul diterapkan.

“Kita akan berikan nutrisi untuk mengurangi resiko, sanitasi kesehatan lingkungan, memberikan penyuluhan, juga dengan cara yang lebih menyenangkan. Karena sekarang kita lebih dekat dengan desa, jadi kita tinggal di desa, apa kekurangannya, membiasakan gerakan mawas diri. Jadi, lebih ingin mengetahui apa saja masalahnya,” urai Eriza.

Kepala Departemen Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Fakultas Kedokteran UKI, dr. Sudung Nainggolan menambahkan, PKM UKI Angkatan VIII merupakan upaya tindak lanjut dari pidato kenegaraan Presiden RI mengenai target penurunan angka stunting nasional.

Adapun data hasil riset kesehatan daerah tahun 2013, angka stunting di Sumedang tercatat sebesar 41%. Tapi menurut Kabid Kesmas Dinkes Sumdang, dr. Uyu Wahyudin angka stunting kini sudah berkurang jadi 31,4%.

“Jadi, kalau ada 100 anak yang lahir, mungkin 40 diantaranya stunting. Sehingga kita targetkan tahun 2023 nanti diharapkan di bawah target WHO. Sedangkan Pa Bupati menargetkan tahun 2023 angka stunting turun menjadi 17 persen, mudah-mudahan kekejar oleh kita,” kata Sudung.

Dijelaskannya, PKM angkatan VIII memiliki bidang penanganan yang lebih spesifik, yakni menyisir di lebih ke hulu permasalahan atau pra konsepsi, jadi lebih ke remaja putri.

Adapun lebih spesifiknya, lanjut Sudung, pertama adalah siapa yang terdaftar di KUA untuk yang menikah. Kedua, siapa remaja putri yang sekarang duduk di kelas 3 SMP dan SMA, itu akan diukur hemoglobin (anemi)-nya.

“Kalau kita sudah mendeteksi remaja putri ini lebih kepada anemi. Kita bantu, kita kumpulkan datanya untuk penanganan anemia-nya dulu. Karena suatu saat dia melahirkan, potensi gejala stunting bisa dibendung lebih awal. Jadi, berat badan bayi normal (normal beratnya 2.500 gram), jika kurang dari itu maka beresiko, sehingga buruh intervensi,” jelasnya. ***

Related posts

Leave a Comment