Press ESC to close

6 Fakta Menarik di Balik Film Dokumenter "Coldplay"

  • November 17, 2018

DEJABAR.ID – Coldplay, tentu sahabat dejabar.id sudah tak asing kagi dengan nama band asal Inggris ini. Kabar gembiranya lagi, band Coldplay ini juga  telah membikin film dokumenter lho.

Selama kurang lebih 20 tahun berkarya di dunia musik, kisah perjalannya disuguhkan lewat film dokumenter. Dan seperti dikabarkan Trafalga Realising, distributor A Head Full Deams,  bahwa film dokumenter ini trlah meraup untung sebesar 3, 5 juta dolar atau 50,8 miliar.

Salah satu band yang paling berpengaruh di jagat musik ini beranggotakan Chris Martin, Jonny Buckland, Guy Berryman, dan Will Champion dan awalnya band ini memakai nama Pectrolaz. Lalu setahun kemudian berganti nama menjadi Starfish, dan baru di tahun 1998 mereka menggunakan nama Coldplay.

Kepiawaiannya dalam menciptakan lagu-lagi telah membawa nama Coldplay semakin melejit. Sudah tercatat, Coldplay telah menghasilkan 7 album studio dan 1 mini album. Nah album ke-7  ‘A Head Full of Dreams’ inilah  yang akhirnya dijadikan judul film dokumenter merek yang mendapat arahan dari sutradara Mat Whitecross.

1. Diangkat dari kisah 20 tahun perjalanan Coldplay di dunia musik

Selama 20 tahun, Whitecross bersabar dan terus mengabadikan momen-momen penting Coldplay lewat cuplikan-cuplikan  berbagai kegiatan Coldplay, konser dari panggung ke panggung dan berbagai momen penting kedekatan bersama dengan tiap personel.

2. Menguak kedekatan antar personel

Tidak hanya keberhasilan dalam menyuguhkan setiap lagu atau karyanya. Tetapi Mat juga berusaha menampilkan momen-momen kedekatan antar personel. Selama 20 tahun itu, kedekatan mereka sudah tidak diragukan lagi.

3. Sutradara Mat Whitecross dan Coldplay sering kerja bareng

Dan sudah mengenal personel  Coldplay sejak dari bangku kuliah. Mat sendiri sudah sangat sering terlibat kerja bareng sama Coldplay dan juga menyutradarai beberapa video klip Coldplay seperti ‘Paradise’, ‘A Sky Full Of Stars’ dan ‘Adventure Of A Lifetime’. Tidak hanya menggarap Coldplay saja tetapi ia juga terlibat dalam pembuatan film dokumenter Oasis, ‘Supersonic’, dan beberapa film drama komedi Spike Island dan biopic Ian Dury, Sex & Drugs & Rock & Roll.

4. Tayang satu hari di 70 negara

Meski Film A Head Full of Dreams hanya tayang satu hari di layar bioskop, yakni Rabu (14/11/2018). Dan ditayangkan di  lebih dari 2.000 bioskop di 70 negara di dunia, termasuk Indonesia. Film  ini mampu menduduki jajaran atas film bioskop di beberapa negara pada hari itu.

Seperti dilansir dari Deadline, Film A Head Full of Dreams menjadi box office pertama di Belanda, dan nomor dua di negara Inggris, Australia, dan Italia, sementara di Amerika menempati posisi kelima. Dengan jumlah penonton mencapai 300.000.

5. Meraup untung 3,5 juta dollar AS

Film dokumenter ini mampu meraup pendapatan hingga 3,5 juta dolar atau lebih dari Rp 50 miliar hanya dalam waktu satu hari penayangan.

Padahal, infomasi resmi mengenai film ini baru diumumkan sebulan sebelum film tayang, tepatnya 12 Oktober 2018 melalui media sosial dan situs resmi Coldplay. Ini menjadi bukti bahwa Coldplay benar-benar band besar yang memiliki penggemar tersebar di seluruh penjuru dunia.

6. Direspon baik oleh penonton

Denga penayangan film ini, banyak pengemar sekaligus penonton yang mengapresiasi film dokimenter ini, yang mereka curahkan di media sosial twiiter  dari negeri Brazil @gabsrodriguees_.

“Kami meninggalkan bioskop dan kami menangis, tertawa, dan begitu bergembira. Terima kasih banyak telah menjadikan kami satu keluarga. Kami sangat mencintaimu. Cinta dari Brazil!” tulisnya. (yga)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *