Press ESC to close

Makanan Ngetren di Cirebon Ini Pernah Dijadikan Bahan untuk Racuni Wali Sanga

  • November 13, 2018

DEJABAR.ID -Docang merupakan makanan khas Cirebon yang paling nikmat disajikan untuk sarapan pagi. Kuahnya yang panas dan gurih akan membuat dinginnya pagi terasa hangat.

Docang memang menjadi buruan masyarakat Cirebon, terutama untuk sarapan. Makanan ini terbuat dari irisan lontong, parutan kelapa, daun singkong yang direbus, toge atau kecambah, daun kucai yang dipotong-potong, remukan kerupuk, lalu dirusak dengan kuah atau air dage atau oncom. Tak lupa diberi sambal supaya rasanya lebih mantap.

Nama docang sendiri berasal dari dua kata, yakni ‘do’ yang berasal dari kata ‘bodo’ yang artinya baceman dari oncom atau dage. Dan ‘cang’ yang berasal dari kata ‘kacang’. Kacang yang dimaksud adalah kacang hijau yang sudah berubah menjadi toge atau kecambah. Kedua bahan makanan tersebut memang bahan utama dalam membuat docang.

Docang merupakan makanan yang sudah ada sejak zaman dulu kala, yakni sejak zaman Wali Sanga. Menurut penuturan salah satu pedagang docang, Sugan (40), docang merupakan gabungan dari makanan sisa yang digunakan untuk meracuni para Wali Sanga.

Sugan menceritakan, kala itu ada seorang pangeran yang amat membenci Wali Sanga, karena mereka menyebarkan agama Islam di pelosok Jawa, termasuk Cirebon. Untuk itu, pangeran tersebut berniat untuk meracuni para wali tersebut.

“Pangeran ini kemudian mengumpulkan sisa-sisa makanan yang tidak habis dari para sultan,” jelas Sugan saat ditemui dejabar.id di rumahnya yang juga sekaligus dijadikan lapak berjualan docang, Jalan Bahagia, Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Senin (12/11/2018).

Makanan sisa tersebut, lanjut Sugan, diberi racun kemudian disajikan untuk para wali yang sedang berkumpul di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kesepuhan Cirebon.

Anehnya, makanan sisa yang mengandung racun tersebut tidak berpengaruh apa-apa ketika dimakan oleh para wali. Justru sebaliknya, mereka justru menyukai makanan tersebut.

“Dari situlah docang menjadi kuliner Cirebon, karena disukai oleh para wali,” jelas Sugan.

Dari kisah tersebut, kemudian mulai bermunculan para pedagang docang di Cirebon. Karena, mereka menganggap bahwa docang adalah makanan yang disukai oleh para wali. Sehingga, makanan ini menjadi makanan khas Cirebon yang melegenda.

Saat ini, docang sangat mudah ditemukan di Cirebon, terutama di pagi hari. Harganya pun bervariasi. Ada yang menjual murah, yakni Rp5.000. Bahkan ada yang mahal, yakni hingga Rp15.000. Sugan sendiri menjual docangnya seharga Rp7.000.

“Docang sangat cocok disajikan buat sarapan, ketika lagi panas-panasnya kuahnya,” pungkasnya.(Jfr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *