DEJABAR.ID, CIREBON-Musim penghujan sudah mulai datang di wilayah Cirebon. Meskipun tidak begitu intens dan tiap hari, namun pengaruhnya cukup terasa bagi sebagian masyarakat Cirebon, khususnya bagi para petani garam.
Datangnya musim hujan membuat petani garam harus gigit jari. Pasalnya, hujan akan membuat panen garamnya menjadi terganggu. Apalagi, harganya yang semakin melonjak turun sejak September.
Menurut salah satu petani garam, Kosim (40), musim kemarau panjang tahun ini sejak mulai Mei, membuat panen garamnya melimpah. Meskipun begitu, harganya semakin anjlok. Untuk perkilogramnya, Kosim mengaku garamnya hanya dihargai Rp300-Rp400. Harga tersebut berbanding terbalik dengan tahun sebelumnya.
“Tahun kemarin, walau musim kemaraunya pendek, tetapi harganya bisa mencapai Rp 1500 hingga Rp 2000 per kilogramnya,” jelasnya saat ditemui awak media di Desa Kanci Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jumat (23/11/2018).
Kosim melanjutkan, penetapan harga tersebut tergantung dari tengkulak atau pengepul. Kebanyakan, para petani menyewa lahan dari pengepul. Dan lahan yang dia garap tersebut adalah lahan milik pengepul, yang nantinya hasil panen tersebut akan dibagi.
Untuk tahun kemarin, Kosim mengakui bisa balik modal. Berbeda dengan tahun ini. Meskipun kemarau panjang, namun harganya kian turun. Kosim mengakui, hal tersebut dikarenakan kualitas garam yang kurang putih. Sehingga mengakibatkan harganya jatuh.
“Kalau untuk kebutuhan sehari-hari kita cukup-cukupin saja. Apalagi sekarang sudah mau musim hujan. Panen garam bisa terganggu,” tuturnya.
Terkait dengan adanya impor garam dari luar negeri, Kosim menyayangkan tindakan demikian. Karena, hal tersebut sama saja dengan mengikis rezeki petani lokal.
“Kami petani garam sih berharap ada bantuan dari pemerintah. Setidaknya bisa sedikit memberi solusi dalam permasalahan kami,” pungkasnya.(Jfr)
Leave a Reply