DEJABAR.ID, PANGANDARAN-Perguruan silat Tjimande Tarikolot Kebon Djeruk Hilir (TTKDH) Desa Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat memiliki tradisi ruwatan 7 Jumat yang tidak boleh terlewatkan. Hal tersebut dilakukan sebelum naik tingkat ke jurus lain oleh para calon jawara di perguruan TTKDH.
Seorang pelatih di perguruan TTKDH Batukaras Sidorus Susanto menyampaikan bahwa tradisi itu dinamakan ruwatan 7 Jumat karena dilakukan setiap malam Jumat selama tujuh kali tanpa boleh bolong sekali pun.
“Ini dilakukan oleh para murid yang akan naik ke tingkatan jurus kelid, yang mana dalam jurus ini mereka akan bermain pukulan tulang,” ujarnya saat dihubungi Dejabar.id, Jumat (11/01/2019).
Tradisi ini, kata Sidorus akan terus dilakukan turun temurun dari sejak berdirinya perguruan seni bela diri TTKHD di Banten ratusan tahun silam.
“Kalau untuk yang sudah melakukan ruwatan ini, biasanya ada ruwatan wajib setahun sekali pada ruwatan kecer di bulan Rabiul Awal, kalaupun mau ikut yang ruwatan tujuh Jumat lagi, itu sah- sah saja,” katanya.
Menurut Sidorus, di Batukaras sendiri tradisi ini mulai berkembang dari sejak masuknya TTKHD ke Batukaras pada tahun 1986 dan hanya di ikuti oleh para orangtua.
“Kan setiap malam jumat para orangtua tidak melaut, jadi mereka selalu latihan silat walaupun kondisinya gelap karena tidak ada listrik,” imbuhnya.
Sekarang, lanjut Sidorus tidak hanya orangtua. Siswa SMA dan SMP juga turut melakukan latihan rutin bahkan ada murid yang masih berusia SD juga ikut.
“Ya kalau yang SD paling hanya diajari dasar-dasarnya saja, tulang mereka kan masih rapuh, dari sisi psikologis juga masih rentan. Takutnya disalahgunakan,” paparnya.
Meski seni bela diri ini merupakan permainan santri, untuk menjadi murid di TTKHD, kata Dorus tidaklah sulit, asalkan ada izin dari orangtua saja sudah cukup, supaya tidak terjadi salah faham.
“Lazimnya ada ikrar seren dari orangtua sebagaimana menitipkan santri ke pesantren, tapi disini belum semuanya seperti itu,” ucap Sidorus.
Sidorus berharap dan meminta perhatian kepada pemerintah supaya memberikan sarana penerangan.
“Kami terus latihan dengan sarana seadanya, kemarin sih sudah mengajukan untuk penerangan, tapi belum ada tindak lanjut,” tutupnya.(dry)
Leave a Reply