DEJABAR.ID, CIREBON -Bagi penyuka dan hobi dengan barang-barang antik, keberadaan toko barang antik merupakan surga tersendiri bagi mereka. Sebab, mereka bisa mendapatkan barang-barang antik yang diinginkan hanya untuk sekedar koleksi, pajangan, ataupun mempelajari sejarahnya.
Namun sayangnya, toko barang antik saat ini sudah mulai berkurang. Hal tersebut dikarenakan barang-barang antik sudah mulai sulit dicari oleh para penjualnya, sehingga banyak yang tutup. Meskipun begitu, terdapat salah satu toko barang antik di sudut Kota Cirebon yang masih tersedia ratusan, bahkan ribuan barang antik, yakni Cheribon Vintage.
Saat memasuki toko ini, akan terlihat ribuan barang antik yang dipajang dan terjejer. Di bagian depan akan disambut oleh sepeda onthel tua, mesin jahit, satu set kursi jadul yang terbuat dari besi, peralatan bekas perang, dan lain-lain yang sudah tak bisa disebutkan lagi. Suasana remang karena penataan lampu di toko ini, membuatnya terasa seperti terlempar ke masa lalu, lengkap dengan barang-barang antiknya.
Menurut Agus Rahmat (48) selaku pemilik Cheribon Vintage, barang antik di tokonya ini bermacam-macam dan lengkap. Bahkan saking lengkapnya, tokonya yang kecil tersebut tidak mampu menampung barang-barang antik tersebut. Sehingga, barang-barang tersebut ditata sedapatnya saja.
Agus menceritakan, dirinya memulai toko barang antik ini berawal dari ketertarikannya pada dua buah barang antik peninggalan sang ayah, yakni mesin jahit yang sudah ada sejak tahun 1920, serta peralatannya seperti gunting, tang, dan lain-lain.
“Awalnya saya suka benda antik peninggalan ayah saya itu. Akhirnya lama-kelamaan mulai mengumpulkan barang antik lainnya,” jelasnya saat ditemui Dejabar.id di tokonya di Jalan Kutagara Kota Cirebon, Jumat (15/3/2019).
Agus mengaku, dirinya mulai mengumpulkan barang-barang antik sejak tahun 1988an. Dia mendapatkannya setelah berkenalan dengan banyak orang dan hunting di Wilayah 3 Cirebon. Hingga sekarang, terhitung sudah ribuan barang antik berbagai jenis yang sudah terkumpul.
Untuk mendapatkan barang-barang antik tersebut, Agus mengalami jalan yang mulus bahkan sulit. Untuk yang sulitnya, karena dia harus pintar merayu pemilik sebelumnya untuk bisa menjual barang antiknya kepadanya. Bahkan dia sampai rela berhari-hari merayunya untuk mendapatkan barang tersebut.
“Yang paling susah itu kursi kayu khusus cukur rambut sama kamera jadul,” jelasnya sembari menunjuk kursi kayu dan kamera di sebelahnya.
Pada tahun 2004, Agus mulai berpikir untuk menjadikan koleksinya ini sebagai ladang bisnis. Karena, dua putrinya sama sekali tidak ada niatan untuk meneruskan hobinya dalam mencari dan merawat barang-barang antik. Akhirnya, dia menyewakan barang-barang antik miliknya, sambil mencoba menjualnya.
“Biasanya disewa untuk pajangan sebuah acara, kafe, toko, dan lain-lain. Saya mematok Rp 50.000 hingga Rp 100.000 tergantung barangnya,” tuturnya.
Meskipun disewa, lanjut Agus, ternyata ada juga yang mau membelinya. Namun, Agus enggan menjual barang-barang yang menurut dia mempunyai nilai sejarah dan cerita tersendiri saat mendapatkannya, serta tingkat kelangkaan barang.
“Seperti kamera ini, meskipun enggak tua-tua banget, tapi saya enggan menjualnya karena susah langka di Indonesia,” pungkasnya.(Jfr)
Leave a Reply