Press ESC to close

Pasang Surut Bisnis Penyewaan Properti Barang Antik di Kota Cirebon

  • March 15, 2019

DEJABAR.ID, CIREBON – Barang-barang antik selain memiliki nilai sejarah dan harga yang tinggi, juga bisa dijadikan sebagai pajangan atau hiasan ruangan. Tidak hanya itu, barang-barang antik jika ditata dengan sangat artistik, maka akan bisa dijadikan spot foto yang bagus. Makanya tidak heran banyak ditemukan properti barang antik di acara-acara pernikahan, kafe, toko, dan lain-lain.
Bukan hal tidak mungkin, barang antik semakin lama semakin dicari oleh mereka yang memang memiliki hobi mengoleksi batang antik. Selain itu, barang antik juga bisa dijadikan properti dalam fotografer. Hal tersebut dimanfaatkan oleh Agus Rahmat (48), seorang pemilik toko barang antik Cheribon Vintage, untuk membuka jasa penyewaan barang antik.
Siasat ini dilakukan untuk menjadikan ladang bisnis bagi koleksi ratusan, bahkan ribuan barang antiknya. Supaya bisa dijadikan uang, namun sayang untuk menjualnya, maka satu-satunya cara adalah dengan menyewanya untuk acara atau kegiatan.
“Karena sudah tidak ada penerus buat melanjutkan koleksi barang antik ini, maka saya membuka penyewaan barang antik,” jelasnya saat ditemui Dejabar.id di toonya di Jalan Kutagara Kota Cirebon, Jumat (15/3/2019).
Agus melanjutkan, harga sewa barang-barang antik tersebut bervariasi, tergantung dari jenis dan tuanya barang. Biasanya, dia membanderolnya dengan harga Rp50.000 hingga Rp100.000. Biasanya, barang-barang antik yang disewa adalah telepon antik, sepeda onthel, kamera antik, dan lain-lain.
Agus mengakui, penyewaan barang-barang antik ini mengalami pasang surut, seperti musim panen saja. Ada masa-masa banyak yang mau menyewa, ada juga sepi-sepinya penyewa. Namun, hal tersebut tidak diambil pusing olehnya.
Meskipun disewa, lanjut Agus, tetap saja ada beberapa orang kolektor yang ingin membelinya. Namun, Agus tidak serta merta mau menjualnya begitu saja. Ada barang-barang yang memang sengaja tidak dia jual, karena barang tersebut memiliki nilai kelangkaan dan cerita tersendiri saat mendapatkannya.
“Seperti kamera ini, meskipun enggak tua-tua banget, tapi saya enggan menjualnya karena susah langka di Indonesia. Padahal, sudah ada sekitar 30 orang yang mau membelinya. Tapi saya enggak mau,” tuturnya.
Agus beralasan, kamera yang berasal dari China tersebut memang belum berusia tua. Namun, pada saat itu, pabrik yang memproduksinya sangat terbatas, dan hanya mengeluarkan beberapa item saja. Selain itu, meskipun di negara sana cukup banyak stoknya, namun di Indonesia sendiri sangat terbatas. Karena itu disebut langka.
Meskipun ada beberapa barang yang enggan dijual, namun tetap ada barang-barang yang memang dijual. Hal tersebut memang karena kurangnya penerus untuk memelihara dan merawat barang-barang antik ini. Apalagi, toko barang antik saat ini sudah berkurang di Kota Cirebon. Dari yang awalnya berjumlah 8 orang, kini berkurang menjadi 3 orang.
Karena itu, lanjutnya, dirinya akan tetap mengedukasi kepada anak-anaknya bahwa mengumpulkan barang antik ini adalah investasi. Cukup dipajang saja dan dirawat. Karena, meskipun sekarang tidak ada yang membutuhkan, tapi beberapa tahun ke depan akan banyak yang membutuhkan. Karena barang semakin tua semakin antik dan banyak dicari.
“Untuk saat ini saya buka penyewaan barang antik dulu sambil berjalan nantinya,” pungkasnya.(Jfr)
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *