DEJABAR.ID, CIREBON-Jika menyusuri kawasan Batik Trusmi yang ada di Desa Trusmi Kulon Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon, maka akan ditemui sebuah bangunan tua yang sudah tidak terpakai dan kosong. Bangunan tersebut terletak di pinggir jalan dan membuat beberapa pasang mata meliriknya saat melewatinya.
Di bagian atas bangunan tersebut, terpampang sebuah tulisan ‘Kooperasi Batik Budi Tresna’, yang tidak lain adalah nama bangunan tersebut. Terdapat sebuah teras berlantai merah di depan bangunan tersebut, dengan semua cat temboknya sudah tampak kusam. Jendela dan pintunya yang khas zaman dulu tampak tertutup semua.
Siapa sangka jika bangunan tua yang kumuh ini menjadi saksi bisu kebangkitan dunia batik di Desa Trusmi, yang merupakan sentra batik di Cirebon. Saat itu, selain para anggotanya sejahtera, koperasi ini juga membangun banyak sekolah favorit di Kabupaten Cirebon. Namun sayangnya, kini koperasi ini sudah tutup dan mati suri.
Menurut budayawan dan sejarawan Cirebon, Bambang Irianto, Kooperasi Batik Budi Tresna merupakan koperasi batik yang didirikan pada tahun 1935. Awalnya, koperasi ini bernama Kooperasi Batik Trusmi. Kemudian pada tahun 1955, diubah menjadi Kooperasi Batik Budi Tresna.
Di masa jayanya, koperasi ini mempunyai banyak anggota yang mayoritas terdiri dari pembatik. Sekitar tahun 1960, koperasi ini mampu membeli tanah di Jalan Tuparev Kecamatan Kedawung Kabupaten Cirebon, seluas 2 hektare. Kemudian, di atas tanah tersebut dibuatkan sebuah sekolah. Tanah serta bangunan sekolah tersebut lalu diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Cirebon. Sekolah tersebut kini terkenal dengan nama SMKN 1 Kedawung, yang merupakan salah satu sekolah favorit di Kabupaten Cirebon.
“Tanah di atas SMKN 1 Kedawung merupakan tanah yang dibeli oleh Kooperasi Batik Budi Tresna,” jelasnya saat ditemui dejabar.id di rumahnya di Jalan Kesambi, Kota Cirebon, Jumat (22/3/2019).
Sedangkan menurut Sekretaris Kooperasi Batik Budi Tresna, Masnedi Masina, meskipun SMKN 1 Kedawung didirikan oleh Kooperasi Batik Budi Tresna, namun terkadang masih ada penolakan dari pihak sekolah saat anak-anak dari anggota koperasi akan bersekolah di SMKN 1 Kedawung tersebut. Selain itu, sebuah prasasti yang berisikan tulisan bahwa bangunan sekolah ini dibangun oleh Kooperasi Batik Budi Tresna pun telah dihancurkan.
Selain SMKN 1 Kedawung, lanjutnya, Kooperasi Batik Budi Tresna juga mendirikan SMPN 1 Plered di Desa Trusmi Wetan yang merupakan SMP favorit di Kecamatan Plered. Namun, nasib yang sama juga dialami oleh anak-anak anggota koperasi di SMPN 1 Plered. Sebab, terkadang ada penolakan anak-anak ini bersekolah di SMP tersebut.
“Kita betul-betul konsen ke dunia pendidikan saat itu,” jelasnya.
Kejatuhan Kooperasi Batik Budi Tresna mulai terasa saat menginjak tahun 2000an. Saat itu, apa yang terjadi pada koperasi batik ini tidak lepas dari sikap para anggotanya yang kadang tidak disiplin saat meminjam uang. Sehingga, lama-kelamaan koperasi ini mulai bangkrut, karena tidak bisa bersaing dengan perubahan zaman.
Masnedi mengakui, sulit untuk membangkitkan kembali koperasi ini yang nasibnya bagaikan hidup segan mati tak mau. Namun, para pembatik yang ada di bawah naungan koperasi ini sebetulnya masih menginginkan koperasi ini hidup. Para pembatik yang dulunya berjualan di koperasi ini, kini pindah ke Pasar Batik di Desa Weru Lor.
“Kami merasa para perajin dan pembatik di Desa Trusmi dan sekitarnya merasa ada naungan jika memiliki koperasi,” pungkasnya.(Jfr)
Leave a Reply