Press ESC to close

Pesona Rumah Belanda di Klangenan Cirebon yang Jadi Langganan Tempat Syuting Film Horor

  • March 25, 2019

DEJABAR.ID, CIREBON-Kawasan Jamblang dan Klangenan di Kabupaten Cirebon, sempat mengalami masa-masa kejayaan pada masa kolonial Belanda. Kawasan yang terletak di jalur proyek jalan Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke 36 ini, menjadi kawasan sentra perekonomian yang ramai di Cirebon saat itu. Banyak didirikan bangunan-bangunan yang didominasi oleh pertokoan, terutama oleh para keturunan Tionghoa yang datang ke tempat ini.
Karena itu, tidak heran jika ditemukan banyak bangunan tua di Jamblang dan Klangenan di sepanjang jalan yang dibangun Daendels yang kini menjadi jalur Pantura. Di Klangenan sendiri, terdapat salah satu bangunan tua peninggalan Belanda yang terletak tidak jauh dari jalan raya. Bagi masyarakat, rumah tua itu kerap disebut rumah Pak Sudirman, karena pemiliknya yang sekarang adalah milik keluarga Sudirman.
Bangunan tua tersebut memiliki arsitektur yang cukup unik. Terdapat dua bangunan di sini, di mana bangunan utama terletak di depan dilengkapi koridor penghubung bangunan di belakang. Halaman depan cukup luas tanpa disertai komponen teras asli. Bangunan utama bersifat bangunan tertutup ini dilengkapi dengan akses pintu utama, 2 di bagian depan menuju ke luar halaman dan 1 pintu menuju bangunan di belakang melalui koridor.
Bangunan utama memiliki bentuk atap tajug semi kerucut dengan bahan penutup dari genteng polos bentuk plentong. Konstruksi pintu dan jendela memiliki dimensi yang cukup besar dan dapat digunakan indikasi sebagai bangunan masa kolonial. Pintu terbuat dari kusen kayu dengan penutup variasi kayu-kaca. Kayunya dominasi bahan jati, sedangkan pada material kaca memiliki model polos dan kaca patri. Daun pintu terdiri 2 daun berbentuk krepyak, sedangkan 2 daun pintu rangkapnya yang ada di bagian dalam terbuat dari bahan kayu- kaca. Begitu juga dengan komponen jendela, dominasi penutup bentuk krepyak dan variasi penutup kayu- kaca. Namun, pada bagian ambang atas jendela terdapat motif profil lengkung.
Keseluruhan material dinding tampak masih asli, dengan ukuran ketebalan 30 cm dan memiliki tinggi 380 cm. Material keaslian bangunan juga dapat dijumpai pada bahan lantai dan plafon ruangan bangunan utama. Lantai bahan traso masif terlihat telah mengalami keausan, sedangkan plafon bahan susunan lembaran-lembaran kayu.
Hal yang cukup menarik lainnya dari rumah ini adalah adanya fasilitas anak tangga menuju atap facade yang dilengkapi 1 pintu, dengan ambang atas bentuk lengkung dan penutup pintu bahan kayu. Bangunan hanya memiliki 1 lantai dan tidak bertingkat. Mengingat hal ini, ternyata anak tangga tersebut hanya untuk akses naik menuju atap facade, yang digunakan untuk melihat pemandangan dari atas.
Menurut Bu Niah (82) selaku istri dari almarhum Pak Sudirman, rumah ini dibangun oleh orang Belanda, lalu dibeli oleh warga Tionghoa. Kemudian, dibeli lagi oleh mertuanya atau orang tua Pak Sudirman. Menurut cerita dari mertuanya, rumah ini dibangun sekitar tahun 1816. Namun, ada juga catatan yang menyatakan bahwa rumah ini dibangun pada tahun 1902 atas nama seorang Belanda.
“Awalnya rumah ini milik orang Belanda, lalu dibeli oleh orang Tionghoa, lalu dibeli lagi oleh mertua saya,” jelasnya saat ditemui dejabar.id di rumahnya, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, Minggu (24/3/2019) kemarin.
Bu Niah menceritakan, rumah ini dulunya digunakan orang-orang Belanda sebagai tempat artileri militer Belanda dan kantor karesidenan. Hal tersebut dibuktikan dengan seringnya ditemukan peluru-peluru di sekitar rumah, yang memang digunakan untuk perang.
Hal tersebut bukan tidak mungkin, karena wilayah Jamblang sempat terjadi peperangan dan pengeboman. Sehingga, rumah tersebut didesain sedemikian rupa agar berfungsi juga sebagai benteng pertahanan. Hal tersebut diperkuat dengan adanya lubang kecil di bawah jendela, yang berfungsi sebagai tempat untuk menembakkan senjata, apabila ada musuh yang mendekat.
Setelah dibeli oleh warga Tionghoa, Bu Niah mengaku tidak mengetahui banyak bangunan ini digunakan untuk apa. Barulah ketika dibeli oleh mertuanya pada masa sebelum kemerdekaan, rumah ini dialihfungsikan sebagai tempat tinggal.
“Suami saya pernah ikut Partai Nasional Indonesia dan pernah menjadikan rumah ini sebagai ruang rapat satu kali,” jelasnya sambil menunjukan salah satu ruangan yang cukup luas di belakang, yang digunakan sebagai ruang rapat.
Meskipun sudah berpindah tangan ke warga pribumi, rumah ini tidak serta merta lepas dari pergolakan pasca kemerdekaan. Pasalnya, pada saat itu muncul krisis sosial di mana hal-hal yang berbau Belanda harus dihancurkan. Karena itu, rumah yang memang berarsitektur khas Belanda ini tidak luput dari incaran masyarakat dan akan dibakar.
Bu Niah mengakui, rumah ini sempat dibakar pada bagian atap depan. Tapi entah mengapa, apinya lama kelamaan padam sendiri. Sehingga, tidak membakar bagian lain di rumah. Hingga akhirnya, rumah ini hanya direnovasi pada bagian atapnya saja. Sedangkan sisanya masih tetap asli. Hanya warna catnya saja yang diperbarui.
Rumah ini sempat didatangi oleh beberapa orang, yang ingin mengetahui tentang sejarahnya. Bahkan menurut cerita, rumah ini memiliki lorong bawah tanah. Namun, Bu Niah menepisnya. Karena, lantainya yang solid sama sekali tidak pernah dibongkar. Dia tetap membiarkan kondisinya sama seperti aslinya.
Karena keunikan bangunannya, lanjut Bu Niah, rumah ini sempat dijadikan lokasi syuting dua buah film horor. Namun, syutingnya hanya di bagian luar saja. Karena, bagian dalam yang dijadikan tempat tinggal, sangat tidak cocok dijadikan tempat untuk syuting film horor. Berbeda jika dilihat dari luar yang tampak menyeramkan. Namun sayangnya, Bu Niah tidak ingat apa judul filmnya. Dia hanya ingat pemainnya diperankan oleh Kang Ibing.
Dulunya, Bu Niah tinggal bersama anak-anaknya di rumah tersebut. Kini, dia tinggal sendirian. Meskipun begitu, dia tidaklah sepenuhnya sendirian.Tanah kosong yang mengelilingi rumah tersebut kini sudah dibangun rumah-rumah yang digunakan untuk tempat tinggal anak dan cucunya. Sehingga, sesekali anak dan cucunya mampir ke rumah tua tersebut untuk melihat kondisi Bu Niah.
“Dulunya tanah sekitar rumah kosong. Sekarang buat tempat tinggal anak cucu,” pungkasnya.(Jfr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *