Press ESC to close

Pemkab Pangandaran Kucurkan Rp1 Miliar Lebih untuk Pesantren Ramadan

  • May 23, 2019

DEJABAR.ID, PANGANDARAN – Pemerintah Kabupaten Pangandaran meluncurkan progam Pesantren Ramadan, peluncuran program tersebut berlangsung di Islamic Center Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pangandaran, Drs Surman mengatakan, bahwa peluncuran program tersebut bertujuan untuk meningkatkan pendidikan dalam bidang keagamaan dan pendidikan karakter anak.
“Kegiatan pelaksanaan pesantren kilat ini dimulai sejak tanggal 19 sampai tanggal 29 mei 2019 mendatang. Namun berkat kreativitas di antara para kiaya ada yang sudah mulai Sejak hari Sabtu kemarin,” ujar Surman saat dihubungi Dejabar.id, Kamis (23/05/2019).
Menurut Surman, peserta tahun ini sebanyak 45.138 siswa yang terdiri dari 32.835 (siswa SD/MI) dan dari SMP/ MTs sejumlah 12.303 orang. Untuk membiayai program Pesantren Ramadan ini Pemerintah Kabupaten Pangandaran menggelontorkan dana Rp1 miliar lebih.
“Kontribusi dari pemerintah itu dinaikkan dari tahun kemarin, karena tidak ada malam hari maka jatuhnya persiswa Rp 25.000, Jadi kalau dihitung dari jumlah 45.138 siswa, diperkirakan dana untuk pesantren ramadhan ini sebesar Rp1.128.450.000,” papar Surman.
Sementara itu, Bupati Pangandaran  Jeje Wiradinata menambahkan, bahwa kegiatan Pesantren Ramadan ini merupakan salah satu dari program pendidikan karakter di Pangandaran.
“Pendidikan karakter lahir sebagai sebuah upaya Pemerintah Daerah (Pemda) Pangandaran dalam rangka memberikan tambahan pendidikan khusus agar anak-anak kita mempunyai karakter, utama pendekatan keagamaan maka lahir namanya ajengan masuk sekolah, Pesantren Ramadan dan lain lain,” ungkap Jeje.
Untuk mensukseskan program pesantren Ramadan, menurut Jeje perlu ada pengawasan yang baik dan kita tidak meliburkan anak-anak sekolah di bulan Ramadan ini tapi anak-anak kita pindah ke pesantren atau tempat-tempat yang ditunjuk.
“Mungkin saja kalau berangkat kesekolah mereka merasa wajib sekolah, tetapi berangkat ke pesantren tidak wajib, karena itu saya berharap absensi dan pengawasan dari guru, selain itu ke tempat-tempat yang menjadi lokasi kegiatan pesantren kilat tentu juga harus diawasi dengan baik karena kita ingin berjalan dengan baik,” katanya.
Jeje menyebutkan, waktu yang hanya 10 hari mungkin tidak ada apa-apanya untuk mengenal bagaimana kultur kehidupan pesantren, bagaimana belajar agama dengan baik sehingga dengan pesantren kilat ini ada niatan mereka untuk belajar agama dengan baik.
“Kegiatan ini semacam memotivasi untuk belajar agama dengan baik, oleh karena itu saya berharap nanti lokasi yang dijadikan kegiatan pesantren ini tentu menjadi perhatian penting, dan saya mohon nanti dibuat sistematis
mungkin hari ini belajar apa dan lain sebagainya,” tukasnya.(dry)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *