DEJABAR.ID, MAJALENGKA – Objek Wisata Prabu Siliwangi, terus menjadi perhatian pengunjung, ditengah menghabiskan masa liburan Lebaran 1440 Hijriyah.
Selain menyajikan berbagai peninggalan bersejarah, di objek wisata ini juga menawarkan keelokan alamnya yang masih alami.
Pepohonan besar dengan dua danau kecil berair jernih kebiru-biruan. Diataranya, Talaga Emas dan Talaga Pancuran menjadi daya tarik wisatawan untuk mengunjungi tempat tersebut.
“Kedatangan kami bersama keluarga di moment Lebaran tahun ini, ingin berwisata menikmati keindahan alam Petilasan Prabu Siliwangi,” ungkap salah seorang pengunjung, Jaja Sumarja, Minggu (9/6/2019).
Menurut Jaja, di objek wisata yang memiliki area seluas 5 hektare dengan 2 situ kecil, 7 pancuran serta 7 mata air menjadi sajian menarik.
Belum lagi, kata dia, dengan flora dan fauna langka hutantropis. Selain itu, di objek wisata yang dikenal warga setempat Situ Cipadung ini juga sekaligus napak tilas.
“Karena di lokasi wisata ini, kita bisa sambil merenungi arti dan makna berbagai peristiwa sejarah masa lalu,” ungkapnya.
Objek Wisata Prabu Siliwangi atau Situ Cipadung, yang terletak di Desa Pajajar, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka ini, merupakan salah satu situs peninggalan Prabu Siliwangi.
“Tak salah semakin kita mendekatinya, kita semakin merenungi arti kehidupan,” jelasnya.
Menariknya, lanjut dia, saat memasuki kawasan tersebut langsung disuguhi oleh gemericik aliran air yang bening.
Di sana juga akan terpukau dan menjumpai monumen kujang serta prasasti telapak kaki.
Selain itu, ada juga patung singa dan kolam yang ditengahnya terdapat patung lumba-lumba yang menyemburkan air.
Selain situ atau danau kecil yang berair bening, jernih adem dan ikan-ikan yang dipelihara.
Kawasannya yang masih terjaga keasriannya, ditandai dengan masih berdirinya pohon-pohon tua, bahkan berlumut dan gerombolan kera liar.
Mengungkit Sejarah Prabu Siliwangi
Singkat cerita, konon bahwa dipercaya oleh masyarakat setempat, Prabu Siliwangi pernah tinggal di lereng Gunung Ciremai.
Tepatnya di kawasan hutan Desa Pajajar Kecamatan Rajagaluh, kurang lebih 35km arah timur dari pusat Kota Majalengka.
Di hutan itulah, raja Pajajaran yang dikenal gagah berani, bersemedi di sebuah pesanggrahan yang di bangunnya.
Sayang, setelah mendapat gelar kehormatan sebagai Sri Ratu Dewata Wisesa, Parabu Siliwangi lantas menghilang.
Bangun pesanggarahan yang megah dan semua infrastruktur yang ada di kawasan hutan Pajajar sirna menjelma menjadi hutan belantara.
Versi lain menurut babad Cirebon, menghilangnya Prabu Siliwangi dari bumi Pajajar karena ia menolak masuk Islam.
Kangjeng Sunan Gunungjati alias Syeh Syiarif Hidayatullah yang juga cucunya itu, pernah meminta agar Prabu Siliwangi segera masuk Islam
Ia pun meminta agar bersama sama menyebarkan agama Allah di kawasan Parahiyangan, Namun, permintaan cucunya itu di tolak.
Sebagai bukti bahwa Prabu Siliwangi pernah lama tinggal di Kawasan Majalengka, ditandai peninggalan sejarahnya.
Seperti ada tumpukan bebatuan, bekas bangunan di bukit Pajajar dan sebuah sumber air bersih di atas bukit Pajajar.
Bebatuan itu, dipercaya adalah bekas bangunan Kraton Prabu Siliwangi, sebuah batu besar berukuran 5 X 6 x 2,5 meter.
Dimana dalam batu besar itu, terpancar sumber air bersih yang dinamakan Sanghyang Talaga Pancur.
Bung Karno Dipercaya Pernah Singgah di Objek Wisata Cipadung
Bahkan, didekat batu besar yang sekelilingnya dipagar kawat berduri yang konon dipercaya bekas puing bangunan pesanggrahan Siliwangi itu ada sebuah tulisan “Kayu Soekarno”.
Tulisan itu menandakan bahwa pada tahun 1944 sebelum Indonesia merdeka, Bung Karno pernah mengunjungi situs tersebut.
Bung karno menanam sepuluh batang bibit pohon asem yang sekarang sudah besar-besar.
Bung Karno pernah berpesan bahwa pepohonan binatang yang ada di hutan Pajajar jangan diganggu manusia.
Karena hutan dan binatang akan bermanfaat bagi kehidupan hajat hidup masyarakat.(jja)
Leave a Reply