Press ESC to close

Produksi Gula Tebu Tahun 2019 Menurun, DPR RI akan Bantu Tingkatkan Produksi

  • January 4, 2020

Dejabar.id, Cirebon – Saat ini, jumlah produksi gula mengalami penurunan. Untuk tahun 2019 saja, gula yang bisa diproduksi hanya sekitar 2,2 juta ton. Dan pada tahun 2020 ini, dipastikan akan mengalami penurunan kembali, karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhi.

Direktur Produksi PG Rajawali II Muzamzam mengatakan, hal ini dikarenakan jumlah tebu yang semakin menurun, serta lahan dan budidaya tebu yang semakin berkurang.

“Karena itu, produksi gula tahun 2019 lalu hanya mencapai 2,2 juta ton saja,” jelasnya, Jumat (3/1/2020) kemarin.

Muzamzam melanjutkan, di wilayah Cirebon sendiri, terdapat dua parbik gula yang menjadi aset milik PG Rajawali II, yakni Pabrik Gula Sindang Laut dan Pabrik Gula Tersana Baru. Kedua pabrik ini tengah ditingkatkan kembali daya produksinya di tengah budidaya yang semakin menurun.

Adapun soal pemanfaatan Pabrik Sindang Laut, lanjutnya, pihaknya masih melakukan kajian, karena fakta jumlah bahan baku yang ada di Cirebon Timur cukup hanya untuk di olah dalam satu pabrik dengan kisaran 3 – 3,5 juta kuintal.

“Kalau diolah di dua pabrik tidak akan masuk pada hari giling, sebab idealnya hari giling 150, sedangkan kalau dibagi dua hanya dibawah 150 hari giling, ini yang menjadi in efesiensi,” jelasnya.

Ia menambahkan, dengan target tahun ini sebesar 56.100 ton gula, pihaknya akan berupaya menyelesaikan beberapa persoalan yang ada di PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI).

“Seperti soal lahan di Indramayu. Ke depan produksi gula meningkat seiring peningkatan produktivitas,” tuturnya.

Sementara menurut anggota Komisi VI DPR RI Herman Khaeron, dirinya berkomitmen untuk menghidupkan kembali RNI untuk dapat mempertahankan produksi di tengah pengaruh dari beberapa aspek.

“Dilihat dari data adanya budidaya tebu menurun, banyak harga rendah, terdistorsi oleh banyaknya rafinasi,” jelasnya saat kunjungan ke kantor PG Rajawali II Cirebon, Jumat (3/1/2020) kemarin.

Pria yang akrab disapa Kang Hero ini menjelaskan, cara untuk menanggulangi bisa dengan di-charge. Artinya, DPR membantu RNI untuk menambal kekurangan raw materialnya, misalnya dengan row sugar.

“Kalau bisa di-charge oleh impor row sugar, row sugar bisa diproduksi di Sindanglaut, hasil tebu masyarakat yang ada bisa dimasukan di Tersana Baru, sehingga waktu produksi akan meningkat di Tersana Baru,” pungkasnya.(Jfr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *