DEJABAR.ID- Kalau Jakarta memiliki Museum Sumpah Pemuda, Bandung memiliki Gedung De Eertes Nederlands atau sering disebut Gedung Denis. Gedung Denis yang sekarang dipakai menjadi kantor cabang Bank BJB ini memiliki sejarah yang patut diketahui masyarakat Indonesia.
Gedung ini menjadi saksi bisu perobekan bendera triwarna Belanda. Insiden tersebut terjadi tiga bulan setelah kemerdekaan Indonesia dan jadi awal dari rangkaian perjuangan revolusioner pemuda boemiputra sebelum peristiwa pembumihangusan Bandung Lautan Api pada tanggal 24 Maret 1946, yang menjadi pelaku utama dalam pengibaran itu adalah tentara Belanda dan sekutunya pastinya.
Ketika hari belum siang, di saat euforia kemerdekaan masih tercium, para anak muda Bandung menuntut bendera kebanggaan Belanda yang berwarna merah putih biru diturunkan. Padahal pasukan inggris sedang berjaga, bahkan dilengkapi dengan persenjataan mewah, termasuk kendaraan lapis baja.
Persenjataan lengkap serdadu Inggris dan citra mengerikan tidak membuat para anak muda Bandung tidak gentar, dengan berani, gagah dan penuh resiko membuat Endang Karmas, salah satu pemuda Bandung, bergerak sendirian masuk ke dalam Gedung Denis hingga mencapai bagian atap.
Setibanya di atas, Karmas bertemu dengan Mulyono yang juga temannya memiliki tujuan yang sama. Hingga naiklah mereka keatas, namun ketika sampai diatas, mereka bingung dikarenakan tidak ada jalan yang menuju sampai ke atap atas. Karmas dan Mulyono memiliki ide hanya dengan menarik kabel besi yang bisa dilakukan untuk mencapainya. Namun akibat angin, kabel gagal ditarik. Pada saat yang bersamaan para pemuda Bandung mendengar tembakan, hinnga membuat suasana semakin gaduh. Para anak muda Bandung semakin berteriak “merdeka…merdeka,” hingga mereka menanggalkan bendera Belanda.
Gedung Denis memiliki pran yang cukup kurial dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, namun sangat disayangkan banyak anak muda yang tidak tahu-menahu dengan sejarah ini. Salah satunya wanita yang memiliki nama Rina Mardiana ini mengaku tidak mengetahui tentang cerita sejarah gedung ini.
“Oh yah, masa sih? Setau aku mah yang ada sejarahnya itu Museum Gedung Asia-Afrika, kalau Gedung ini belum tahu,” ujarnya kepada reporter Dejabar saat ditemui di depan Gedung BJB, Jalan Asia-Afrika, kemarin.
Dokumentasi dan literatur pun mengenai gedung ini sangat minim. Namun untuk mengenang perjuangan para anak muda Bandung, lima tahun yang lalu pihak BJB pernah menyelenggarakn teatrikal di depan gedung ini. Selain itu juga ada sebuah buku yang meulis buku ini yang ditulis oleh dua wartawan yang bernama Enton dan Efrie, berjudul Merah Putih di Gedung Denis: Catatan Tercecer di Awal Kemerdekaan.
“Harusnya pemkot punya kesadaaran biar anak muda Bandung tahu sejarahnya, jangan kayak saya yang nggak tahu sejarah, hehe.” tutupnya.(Eca)
Leave a Reply