DEJABAR.ID, CIREBON – Setiap hari Rebo Wekasan atau Rabu Pamungkas, yang memiliki makna hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam sistem penanggalan Jawa, Keraton Kanoman Cirebon selalu mengadakan tradisi Tawurji dan Ngapem. Kedua tradisi ini tidak dapat dipisahkan dalam acara ritual di Keraton Kanoman Cirebon, terutama dalam menjelang tradisi Panjang Jimat (Muludan).
Menurut Juru Bicara Keraton Kanoman Cirebon Raja Ratu Arimbi Nurtina, kedua tradisi ini sudah ada sejak era Wali Songo, dan keberlangsungan kedua tradisi ini tidak lepas dari pengaruh ajaran Islam dan misi Islamisasi pada saat itu.
“Tradisi ini mempunyai nilai kekeramatan dan kepercayaan akan turunnya ribuan musibah,” jelasnya saat ditemui awak media di Keraton Kanoman Cirebon usai ritual Tawurji dan Ngapem, Rabu (7/11/2018).
Menurut Ratu Arimbi, Tawurji adalah shodaqoh uang koin yang dibagikan secara massal kepada margesari atau warga, dan biasanya diikuti oleh Abdi Dalem dan juga masyarakat lainnya. Tawurji berasal dari suku kata ‘tawur’ yang berarti melempar uang koin atau sejenisnya, dan ‘aji’ yang berarti Tuan Haji atau orang yang mampu.
“Setiap tahun, sekitar Rp 5 juta yang dibagikan, yang terdiri dari koin pecahan Rp 500 dan Rp 1000,” tuturnya.
Sementara Ngapem adalah salah satu shodaqoh dalam bentuk yang lain, yakni memberikan makanan Apem. Apem adalah makanan yang terbuat dari bahan beras yang sudah dihaluskan yang disandingkan dengan gula merah. Dalam tradisi Ngapem, terdapat sekitar 1600 apem yang dibagikan Keraton Kanoman untuk warga.
“Tradisi Tawurji dan Ngapem ini pada intinya merupakan bentuk shodaqoh keluarga keraton di hari Rabu terakhir bulan Safar sebagai upaya untuk menolak segala jenis marabahaya atau musibah,” tutur Ratu Arimbi.
Menurut salah satu cerita yang berkembang di lingkungan Keraton Kanoman Cirebon, lanjut Ratu Arimbi, tradisi Tawurji bermula dari upaya perlindungan murid-murid Syekh Lemah Abang yang dianggap sesat, disertai nasib mereka yang terlunta-lunta. Sehingga, Sunan Gunung Jati melindungi mereka dengan memberikan uang koin sebagai bekal untuk bertahan hidup.
Peristiwa itu tepat pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Dan pada hari itu juga, berbarengan dengan tradisi ritual di Bangsal Paseban Keraton Kanoman Cirebon dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT, dan tawasul kepada para wali dan leluhur raja-raja Keraton Kanoman.
Kedua tradisi ini diawali dengan berkumpulnya para Pinengeran dan Abdi Dalem di Pendopo Djinem sembari menunggu Sultan Raja Muhammad Emirudin (Sultan Kanoman XII) keluar dari kediamanya di Kaputren dengan membawa satu kotak uang koin yang sudah didoakan, guna dibagikan kepada masyarakat dan Abdi Dalem yang bertempat di Pendopo Djinem.
“Kegiatan lalu dilanjutkan dengan memanjatkan doa di Bangsal Paseban untuk meminta pertolongan dan keselamatan, dengan cara membagi-bagikan apem secara sukarela,” pungkasnya. (jfr)
Leave a Reply