Press ESC to close

Mengenal Tips Diet Ala Keluarga Keraton Kanoman

  • November 8, 2018

DEJABAR.ID, CIREBON – Sekarang ini, sudah banyak sekali tips-tips tentang diet, baik itu tips yang cukup ringan untuk dijalani, maupun yang berat hingga ekstrim. Semuanya itu bermuara pada satu tujuan, yakni hidup sehat, badan langsing, dan terhindar dari penyakit.
Pola hidup sehat dan diet ini ternyata tidak dikenal sekarang-sekarang saja. Sejak zaman dahulu, orang-orang sudah mengenal pola hidup sehat dan berdiet. Hanya saja, mungkin pada zaman dulu namanya bukan diet, melainkan hanya menjaga kesehatan saja.
Seperti yang dituturkan oleh Juru Bicara Kesultanan Kanoman Cirebon Raja Ratu Arimbi Nurtina. Dia menyebutkan bahwa secara turun-temurun, keluarga Keraton Kanoman ternyata sudah menerapkan pola hidup sehat, terutama di bulan Safar dalam sistem penanggalan Jawa dan Hijriyah.
Ratu Arimbi menjelaskan, selama 40 hari dari mulai tanggal 1 bulan Safar hingga 11 Maulid atau Rabiul Awal, keluarga keraton tidak memakan nasi atau makanan yang mengandung karbohidrat. Dan juga, tidak memakan makanan yang bernyawa seperti daging dan telur, karena mengandung lemak.
“Secara turun temurun, keluarga keraton menerapkan kebiasaan ini saat memasuki bulan Safar,” jelasnya saat ditemui dejabar.id usai mengikuti rangkaian kegiatan tradisi Tawurji dan Ngapem di Keraton Kanoman, Kota Cirebon, Rabu (7/11/2018).
Menurut Ratu Arimbi, hal ini bertujuan untuk menjaga kesehatan. Karena, selama setahun ini, dia dan keluarga keraton lainnya kerap memakan karbohidrat, seperti yang ada dalam nasi. Sehingga dengan adanya tradisi ini, merupakan simbol dari introspeksi dan apa yang dilakukan harus lebih halus.
Dengan demikian, dalam tradisi ini keluarga keraton murni mengonsumsi vegetarian, yang tanpa karbohidrat dan lemak. Bahkan minumnya pun cukup air putih saja, yang tidak mengandung gula atau pemanis lainnya.
Kalaupun ingin mengonsumsi beras, tambah Ratu Arimbi, harus ditumbuk halus untuk menghilangkan kadar karbohidratnya. Biasanya, beras yang sudah halus itu dijadikan kue apem. Namun, tidak dikonsumsi bersama gula merah
“Sebetulnya ini tidak wajib bagi keluarga keraton. Ini hanya untuk yang sadar akan kesehatan saja. Dan biasanya dianjurkan bagi mereka yang sudah akil baligh atau dewasa,” jelasnya.
Dengan kerap mengikuti ajaran yang sudah turun-temurun ini, lanjut Ratu Arimbi, merupakan upaya untuk melatih diri agar tidak mengonsumsi karbohidrat secara berlebih. Sehingga, dirinya merasa lebih sehat.
“Badan lebih ringan, pikiran jernih, dan badan jadi sehat,” pungkasnya. (jfr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *