DEJABAR.ID, CIREBON – Kota Cirebon baru saja meluncurkan layanan kegawatdaruratannya, yakni layanan 112 pada 29 Oktober 2018 lalu. Layanan ini bisa digunakan oleh masyarakat Kota Cirebon ketika menemukan keadaan genting, seperti kebakaran, bencana, dan lain-lain. Nantinya, operator yang bertugas di Cirebon Command Center akan menindaklanjuti laporan dari masyarakat tersebut.
Ada 12 operator yang bertugas di Cirebon Command Center, yang dibagi menjadi dua shift, yakni siang dan malam. Masing-masing shift berjumlah 6 orang operator. Jam kerjanya dimulai pukul 07.00 WIB hingga 14.00 WIB. Malamnya dimulai pukul 21.00 WIB hingga 07.00 WIB pagi.
Meskipun layanan ini berfungsi sebagai kegawatdaruratan, namun masih ada saja masyarakat yang ternyata iseng dalam menghubungi layanan 112. Apalagi, layanan ini gratis dan bebas pulsa. Dalam sehari, bisa sampai 500 panggilan. Rekor sejauh ini 700 panggilan. Yang sangat disayangkan, dari jumlah itu mayoritas iseng.
Hal tersebut dituturkan oleh Isti (22), Yulianti (23), dan Dede Adi Pratama (19) yang bertugas sebagai operator layanan 112. Mereka mengakui, hampir 90% panggilan yang masuk, adalah panggilan iseng. Kondisi ini tentu memprihatinkan. Mengingat sambungan telepon 112 ini harusnya untuk layanan kegawatdaruratan. Baik faktor kesehatan, kerawanan, sampai bencana.
Menurut Yuliyanti, di jam-jam kerja sejak pagi hingga sore, paling rawan panggilan masuk iseng. Yang disasar adalah sang operator wanita. Mulai dari telepon perkataan kasar, menjurus pelecehan seksual, sampai sekadar gombal.
“Banyak telepon yang masuk yang ngerjain. Semacam prank call gitu. Tapi yang parah itu pernah dapat telepon marah-marah,” jelasnya saat ditemui Dejabar.id di Cirebon Command Center, Balaikota Cirebon, Jl. Siliwangi Kota Cirebon, Kamis (8/11/2018).
Yulianti pun merasa kesal. Namun, dirinya harus tetap menanggapinya sesuai dengan SOP yang ada. Dia tetap menangkat telepon tersebut. Bila dirasa isi panggilannya tidak berguna, langsung diberi edukasi.
Kejadian serupa pun dialami oleh operator lainnya, yakni Isti. Dia sering menerima panggilan-panggilan iseng disertai dengan celotehan, yang kebanyakan dilakukan oleh remaja. Namun sebagai pelayan masyarakat, menghadapi yang semacam ini juga harus mengedepankan profesionalisme.
“Sayang sekali. Mereka tidak memahami kalau sambungan telepon mereka mengganggu panggilan lain yang memang dalam kondisi genting. Sebut saja seperti kebakaran, kecelakaan atau lainnya,” tuturnya.
Hal yang berbeda dialami oleh operator pria, yakni Dede Adi Pratama. Dia memiliki pengalaman yang tak terlupakan saat dihubungi masyarakat. Dia menceritakan, si penelepon mengira kalau layanan ini sama dengan call center provider telepon selular. Contohnya, penelepon menanyakan bagaimana cara registrasi kartu SIM.
Hal ini tentu membuatnya agak keli. Namun, meskipun bukan dalam bidangnya, dia tetap meladeninya dengan sabar dan menjelaskannya.
“Mungkin untuk jadi operator ini, harus punya rasa sabar yang ekstra,” pungkasnya. (jfr)
Leave a Reply