Awas Perokok Penderita Corona Terancam Kematian Lebih Cepat


Jakarta – Wabah Corona banyak yang menjadi ahli medis dadakan tanpa adanya literasi akurat serta riset hingga memicu hoax dan menjadi acuan bagi mereka orang awam.

Di grup whatsapp bahkan media online menyebut tembakau bahkan merokok dapat melawan Corona disebutkan kalau asap tembakau bisa membunuh virus Corona.

Namun Stanton A.Glants,PhD seorang pakar sekalisgus Direktur pusat riset pengendalian dan edukasi tembakau dikutip dari situs tobacco.ucsf.edu menyatakan kalau perokok akan menambah parah penderita Corona.

Stanton A.Glants mengatakan, “Ketika paru-paru seseorang terkena flu atau infeksi lain, efek buruk dari merokok atau menguap jauh lebih serius daripada di antara orang-orang yang tidak merokok atau vape,”katanya.

Merokok dikaitkan dengan peningkatan perkembangan sindrom gangguan pernapasan akut atau dikenal acute respiratory distress syndrome (ARDS) pada orang dengan faktor risiko seperti infeksi parah, sepsis non-paru (infeksi darah), atau trauma tumpul. Orang-orang yang memiliki cotinine (metabolit nikotin) dalam tubuhnya – bahkan pada tingkat rendah yang terkait dengan asap rokok orang lain – secara substansial meningkatkan risiko kegagalan pernapasan akut dari ARDS(sumber https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24942512).

Ringkasan bukti terkini tentang efek paru dari e-rokok melaporkan berbagai cara bahwa e-rokok merusak kemampuan paru-paru untuk melawan infeksi:

Efek pada kekebalan

Pelaporan gejala pernapasan oleh pengguna e-rokok menunjukkan peningkatan kerentanan terhadap dan / atau keterlambatan pemulihan dari infeksi pernapasan.

Sebuah penelitian terhadap 30 non-perokok sehat yang terpajan aerosol e-rokok menemukan penurunan sensitivitas batuk.  Jika disfungsi siliaris manusia juga terpengaruh secara negatif, seperti yang disarankan oleh penelitian pada hewan dan seluler,  kombinasi dari pengurangan batuk dan gangguan pembersihan mukosiliar dapat mempengaruhi pengguna untuk meningkatkan angka pneumonia.

Paparan terhadap e-rokok juga secara luas menekan kapasitas penting dari sistem kekebalan tubuh bawaan. Biopsi mengikis hidung dari non-perokok, perokok, dan vapers menunjukkan penekanan kekebalan yang luas pada tingkat gen dengan penggunaan e-rokok. 

Non-perokok yang sehat terpapar aerosol e-rokok, dan lavage bronchoalveolar diperoleh untuk mempelajari makrofag alveolar.  Ekspresi lebih dari 60 gen diubah dalam makrofag alveolar pengguna e-rokok dua jam setelah hanya 20 isapan, termasuk gen yang terlibat dalam peradangan.

Pembentukan perangkap ekstraseluler Neutrofil (NET), atau NETosis, adalah mode pertahanan bawaan di mana neutrofil melisis DNA dan melepaskannya ke lingkungan ekstraseluler untuk membantu melumpuhkan bakteri, suatu proses yang juga dapat melukai paru-paru.  Neutrofil dari vapers kronis telah ditemukan memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk pembentukan NET daripada yang dari perokok atau bukan perokok. Mengingat bahwa e-rokok juga dapat merusak fagositosis neutrofil, data ini menunjukkan bahwa fungsi neutrofil dapat terganggu pada pengguna e-rokok. 

Studi pada hewan memperkuat dan membantu menjelaskan efek manusia ini:

Dua minggu paparan aerosol e-rokok pada tikus menurunkan angka harapan hidup dan peningkatan beban patogen setelah inokulasi dengan Streptococcus pneumoniae atau influenza A, dua penyebab utama pneumonia pada manusia. 

Selanjutnya, paparan aerosol dapat menyebabkan peningkatan kolonisasi jalan nafas dengan patogen dan perubahan virulen dalam fenotip patogen, seperti yang ditunjukkan dengan Staphylococcus aureus . 

Dengan demikian, meskipun diperlukan lebih banyak penelitian, data hewan menunjukkan bahwa vaping mengarah pada peningkatan kerentanan terhadap infeksi tampaknya berkorelasi dengan data tingkat populasi pada manusia dewasa muda, di mana vapers telah meningkatkan tingkat gejala bronkitis kronis. 

Terkait hasil riset di atas mengenai analisis kematian akibat virus korona di Cina menunjukkan bahwa pria lebih mungkin meninggal daripada wanita, sesuatu yang mungkin terkait dengan fakta bahwa lebih banyak pria Cina merokok daripada wanita.

Di antara pasien China yang didiagnosis dengan pneumonia terkait COVID-19, kemungkinan perkembangan penyakit (termasuk hingga kematian) adalah 14 kali lebih tinggi di antara orang-orang dengan riwayat merokok dibandingkan dengan mereka yang tidak merokok. Ini adalah faktor risiko terkuat di antara mereka yang diperiksa.

CDC, FDA, Surgeon General, departemen kesehatan negara bagian dan semua orang (termasuk komedian , seperti John Olive yang menghabiskan seluruh acaranya pada masalah akhir pekan lalu) bekerja untuk mendidik masyarakat tentang cara menurunkan risiko komplikasi serius dari covid-19. harus menambahkan berhenti merokok, menguap/Vape, dan menghindari paparan bekas ke daftar tindakan pencegahan penting untuk mereka .

Hal ini baik untuk di sosialisasikan ke kota-kota yang terpapar Virus Corona, menguatkan para pengusaha swasta dan bahkan keluarga individu untuk meminta undang-undang dan kebijakan asap rokok – termasuk e-rokok – hal ini untuk melindungi orang yang tidak merokok dari efek asap rokok dan aerosol pada paru-paru mereka dan untuk menciptakan lingkungan. itu akan membantu perokok berhenti.

Hal senada dikatakan Feni Fitriani Ketua Pokja Masalah rokok Perhimpunan dokter Paru Indonesia mengatakan orang yang merokok akan lebih mudah terjangkit Covid-19. Rokok yang dimaksud Feni adalah rokok konvensional maupun rokok elektrik. “Bahwa pada orang yang merokok itu memang meningkatkan reseptor ACE2 itu kan tempat yang juga diduduki oleh si virus, sehingga kalau orang merokok reseptor atau tempat duduknya lebih banyak. Jadi virusnya rame-rame bisa datang,” ujarnya.

Senada dengan Feni, Kepala Lembaga Biologi dan Pendidikan Tinggi Eijkman Kementerian Riset dan Teknologi Amin Soebandrio juga mengungkapkan sebuah jurnal berjudul “Epidemiological and clinical features of the 2019 novel coronavirus outbreak in China”.

Dalam jurnal tersebut disebutkan keparahan coronavirus pada laki-laki di China lebih tinggi dibandingkan perempuan. Hal ini disebabkan karena laki-laki di China kebanyakan adalah perokok berat. Studi itu juga menyebutkan 61,5 persen penderita pneumonia berat akibat coronavirus adalah laki-laki dan tingkat kematian 4,45 persen pada pasien laki-laki dan 1,25 persen pada pasien perempuan. “Melihat temuan di atas, masyarakat perlu mengetahui bagaimana perilaku merokok memiliki resiko lebih tinggi terhadap infeksi dan perparah komplikasi Covid-19,” jelas Amin.

Batuk

HerbaKOF merupakan hasil riset dari Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS). Dengan riset menggunakan teknologi modern, obat herbal diteliti melalui serangkaian riset untuk membuktikan secara ilmiah (evidenced based).

HerbaKOF adalah obat herbal modern yang dibuat dari herbal alami yaitu dari ekstrak daun Legundi, rimpang Jahe, daun Saga, dan buah Mahkota Dewa yang diproses melalui teknologi modern ‘Advanced Fractionation Technology (AFT)’, untuk menghasilkan zat aktif Reconyl.

AFT merupakan suatu teknologi untuk mendapatkan kandungan fraksi spesifik yang memiliki aktivitas biologis untuk meredakan batuk dan melegakan tenggorokan.

Advanced Fractionation Technology (AFT) merupakan inovasi proses modern yang kami lakukan untuk menemukan fraksi-fraksi terbaik dalam tanaman herbal yang paling efektif untuk mengatasi jenis penyakit tertentu. Satu tanaman herbal dapat saja memiliki berbagai khasiat karena terdiri dari berbagai fraksi yang memiliki spesialisasinya masing-masing.

Dengan AFT, fraksi dari tanaman herbal yang paling tepat untuk mengatasi suatu penyakit dipilih dan dikumpulkan sehingga keampuhan herbal tersebut lebih tepat sasaran pada suatu keluhan.

Herbakof bagus digunkaan oleh Perokok, karena sering mereka terkena iritasi tenggorokan (akibat asap rokok). Minum obat batuk kimia terus menerus tentunya tidak baik untuk kesehatan. Karena itu untuk perokok, paling cocok obat batuk herbal. Karena aman diminum kapan saja, bahkan sejak tenggorokan mulai terasa tidak enak. Apalagi Herbakof mengandung active fraction Jahe yang berfungsi melegakan tenggorokan.

Sehingga dalam kondisi Corona saat ini, paling baik untuk perokok segera menghilangkan gejala batuk dengan minum Herbakof. Aman diminum sejak awal batuk.

Menurut Executive Director DLBS, DR. Raymond Tjandrawinata, Ph.D, bahan baku alam Indonesia diformulasi dengan menggunakan metode pendekatan Tandem Chemistry Expression Bioassay System (TCEBS) yang berupa kombinasi teknik kimia, biokimia, serta farmakologi modern yang diaplikasikan untuk menapis berbagai bahan alam potensial untuk menjadi kandidat obat.

“Melalui proses Advance Fractionation Technology (AFT), bahan baku alam yang digunakan, mengalami proses ekstraksi bertingkat untuk menemukan fraksi spesifik yang tepat dalam mengobati penyakit. Bioactive Fraction yang memiliki kemurnian yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak biasa ini, yang menghasilkan kandungan aktif untuk produk obat herbal modern,” papar Raymond Tjandrawinata.

Setiap bahan baku yang digunakan telah melalui proses determinasi oleh lembaga penelitian terakreditasi sehingga terjamin keotentikannya.

HerbaKOF telah melalui uji toksikologi, uji pra klinis, uji khasiat, sehingga aman dan efektif untuk meredakan batuk dan melegakan tenggorokan. Keunggulan HerbaKOF adalah dapat bekerja secara cepat, aman dan diproses dengan teknologi modern.

HerbaKOF aman untuk dikonsumsi siapa saja, termasuk ibu menyusui dan anak-anak di atas usia 6 tahun. Dosis HerbaKOF untuk dewasa adalah; 3 kali sehari 15 ml & untuk anak di atas usia 6 tahun adalah; 3 kali sehari 5 ml.

Komposisi HerbaKOF: Tiap 3 sendok takar (15 ml) mengandung Reconyl TM yang merupakan campuran ekstrak yang setara dengan simplisia: 1 gram Vitex trifolia folium, 0.25 gram Zingiber officinale rhizome, 0.25 gram Abrus precatorius folium, 0.20 gram Phaleria macrocarpa.

Khasiat: Membantu meredakan batuk dan membantu melegakan tenggorokan. Penyimpanan: Simpan pada suhu di bawah 30 derajat Celsius, terlindung dari cahaya. Jauhkan dari jangkauan anak-anak. Kocok dahulu sebelum dipakai.