Press ESC to close

Fakta Seputar Film "Pengkhianatan G30S/PKI" yang Sudah Tidak Wajib Ditayangkan

  • September 30, 2019

dejabar.id – Pada periode kepemimpinan Presiden Soeharto, sebuah film legendaris berjudul Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI atau lebih dikenal dengan nama Pengkhianatan G30S/PKI wajib diputar di seluruh bioskop dan stasiun televisi Tanah Air, setiap tanggal 30 September.

Menurut sejarah, film ini awalnya berjudul Sejarah Orde Baru (SOB). Film berdurasi lebih dari 200 menit itu menjadi film terlaris di Jakarta pada tahun 1984.

Film ini disutradarai dan naskahnya ditulis oleh Arifin C Noer, merupakan produksi Perum Produksi Film Negara (PPFN).

Dirangkum dari beberapa sumber, berikut fakta-fakta mengenai film Pengkhianatan G30S/PKI.

  • Rilis Perdana Tahun 1984

Film ini tayang perdana pada tahun 1984. Para pembuatnya mengatakan film tersebut bergenre dokudrama atau drama dokumenter, bukan dokumenter asli.

Semua alur cerita diambil dari buku Tragedi Nasional Percobaan Kudeta G30S/PKI yang ditulis oleh sejarawan militer Nugroho Notosusanto.

Dalam tayangannya masih ada dokumentasi asli saat peristiwa, tetapi hanya sedikit. Oleh karena itu, ada banyak penambahan reka adegan pada jalan ceritanya.

  • Biaya Produksi Termahal Pada Masanya

Dilansir dari laman Intisari pada tahun 2017, besarnya angka untuk memproduksi film tersebut yakni Rp 800 juta.

Bahkan pada tahun 2017 jumlahnya hampir 10 kali lipat nilai mata uang yang dikeluarkan untuk membuat sebuah film.

  • Tak Lagi Wajib Tayang Sejak Tahun 1998

Selama sejarah film itu ditayangkan menjadi sebuah keharusan setiap tanggal 30 September untuk tayang di satu-satunya saluran televisi di Indonesia, TVRI.

Namun, pada Oktober 1998, seiring dengan jatuhnya kekuasaan Presiden Soeharto pada Mei 1998, Menteri Pendidikan Juwono meminta kepada para sejarawan untuk meninjau kembali kurikulum pelajaran sejarah tingkat SMP dan SMA agar informasi siswa didik dapat berimbang dengan baik.

Ada beberapa film yang kiranya tidak sesuai dengan dinamika reformasi antara lain Pengkhianatan G30S/PKI, Janur Kuning, dan Serangan Fajar. Sejak saat itulah film G30S/PKI tidak lagi ditayangkan sebagai sebuah kewajiban.

Beberapa adegan dalam film menggambarkan DN Aidit merokok, yang dikatakan oleh anaknya Ilham Aidit, bahwa gambar ayahnya merokok tidaklah benar. Akan tetapi, Majalah Intisari keluaran Maret 1946 yang mewawancarai langsung dengan DN Aidit selama dua jam mengatakan sebaliknya. tokoh PKI tersebut banyak minum, merokok, dan menikmati secangkir kopi pahit.

(Sumber: GenPi.co).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *