DEJABAR.ID, CIREBON – Industri gerabah di Desa Sitiwinangun Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon mulai menggeliat. Sejak diresmikan oleh Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat pada Jumat lalu sebagai desa wisata dan edukasi gerabah, Desa Sitiwinangun mulai dikenal ke berbagai daerah.
Salah satu yang merasakan manfaatnya adalah Kadmiya (50), salah seorang pengrajin dan penjual gerabah. Setiap bulannya, dia bisa memproduksi 400 gerabah. Hal tersebut membuat perekonomian keluarganya mulai membaik.
Meskipun industri gerabah di Desa Sitiwinangun sempat mati suri pada tahun 80an, Kadmiya tetap bertahan dengan kerajinan gerabahnya. Berkat itu, kerajinan gerabah milik Kadmiya sudah dipamerkan di berbagai tempat. Seperti di Yogyakarta, Jakarta, dan UNESCO. Barang produksinya pun bahkan sudah ada yang diekspor ke luar negeri.
Menurut Kadmiya, gerabah merupakan barang kerajinan yang biasa digunakan untuk rumah tangga maupun hiasan. Untuk membuatnya, ada tiga teknik khusus, yakni teknik putar, cetak, dan langsung.
“Jika kita memproduksi banyak, biasanya memakai teknik cetak,” jelasnya saat ditemui Dejabar.id di Blok Bagusan Desa Sitiwinangun Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon, Selasa (27/11/2018).
Untuk teknik putar, jelasnya, biasanya digunakan untuk membuat benda-benda yang bulat seperti piring, guci, gentong, dan vas. Sedangkan untuk teknik langsung, hanya untuk benda-benda hiasan, seperti patung naga. Biasanya, teknik langsung ini membutuhkan keterampilan dari pengrajin itu sendiri.
Untuk membuat gerabah, Kadmiya menggunakan tanah liat dan pasir yang ada di belakang halaman rumahnya. Mulanya, dia menyampurkan kedua bahan tersebut, lalu dibentuk sesuai dengan keinginan. Kemudian, diangin-anginkan agar kering. Setelah itu, dipanaskan di dalam tungku dengan panas sebesar 800 derajat Celcius. Kemudian, dilakukan finsihing.
“Kerajinan gerabah di Desa Sitiwinangun memiliki tekstur kasar yang khas. Kalaupun ingin dihaluskan bisa saja, tergantung dari jenis gerabah yang diproduksi,” tuturnya.
Menurut Kadmiya, dirinya sudah turun temurun menjalani usaha industri gerabah. Bahkan, dia merupakan generasi ke 14 dari keluarganya yang membuka usaha industri gerabah. Diakuinya, keterampilan membuat gerabah sudah sangat melekat di keluarganya.
Untuk gerabah yang paling murah, seperti gantungan kunci, Kadmiya menjualnya seharga Rp 2.500. Sedangkan untuk yang paling mahal, dia bisa menjual kerajinannya seharga Rp 500.000.
Biasanya, lanjutnya, makanan yang diwadahi di dalam produk gerabah akan berbeda rasanya dengan yang diwadahi dalam piring atau panci, terutama makanan berkuah. Dia mencontohkan empal gentong yang wadah gentongnya menggunakan gerabah. Jika sudah lama dipakai, maka rasa empal gentongnya akan terasa lebih enak.
“Makanya barang produk gerabah tidak perlu dicuci. Karena untuk membersihkannya cukup dengan air hangat saja sudah bisa hilang. Beda dengan plastik yang harus dengan sabun,” pungkasnya.(Jfr)
Leave a Reply