LSM KOMPI Minta Wali Kota Bubarkan PDAM Tirta Patriot


BEKASI: Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Komite Masyarakat Peduli Indonesia (KOMPI) menyebutkan kondisi manajemen Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Patriot “sakit”

Ibarat pribahasa mengatakan  ‘lebih besar pasak daripada tiang”. Itu artinya, pengeluaran perusahaan lebih besar dari keuntungan hasil produksi air.

LSM KOMPI menyebutkan, jumlah pegawai yang jadi salah satu sebab ‘membengkak’ nya pos pengeluaran anggaran.

“Perekrutan pegawai yang diduga telah melanggar aturan karena tidak melalui mekanisme seleksi. Akibatnya, jumlah pegawai overload hingga otomatis berimbas pada beban anggaran gaji pegawai” ujarnya.

Tidak seimbangnya pengeluaran operasional pegawai dengan pemasukan dari penghasilan air dan non air menjadikan PDAM Tirta Patriot sangat ketergantungan pada penyertaan modal.

Ketua LSM KOMPI Ergat Bustomi menyebutkan, sejak awal proses pendirian PDAM Tirta Patriot kental dengan muatan politis dibandingkan sosial ekonomi.

“Daripada menghabiskan anggaran hingga ratusan miliar namun tidak ada manfaatnya, lebih baik Wali Kota bubarkan saja PDAM Tirta Patriot,” kata Ergat kepada dejabar.id, Selasa (12/5/2020).

Ia lebih sepakat jika anggaran yang bersumber dari APBD dialokasikan untuk program yang lebih bermanfaat bagi masyarakat Kota Bekasi.

“Lagi pula, Kota Bekasi kan sudah punya PDAM Tirta Bhagasasi yang dimiliki bersama Kabupaten Bekasi,” imbuhnya.

Dalam catatan Rumah Aspirasi menyebutkan bahwa laporan keuangan PDAM Tirta Patriot ada peningkatan beban gaji pegawai sebesar Rp536.707.244. Beban pegawai di tahun 2017 tercatat sebesar Rp26.088.172.077, yang kemudian pada tahun 2018 meningkat menjadi Rp26.624.879.321.

“sungguh kondisi yang sangat ironis, kalo gak segera dievaluasi, dan perlu ditindak lanjuti dengan pelaporan nih” pungkas ergat (Mad)