DEJABAR.ID, CIREBON-Di salah satu sudut Kota Cirebon, tepatnya di Jalan Suratno, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, terdapat sebuah masjid yang cukup unik, yakni bernama Masjid Ash Shamad. Keunikannya terletak pada bahan bangunan masjid yang hampir 75% terbuat dari bambu. Sehingga, masjid ini kerap disebut dengan Masjid Bambu.
Berdasarkan pantauan dejabar.id, suasana masjid ini dikelilingi oleh 7 pohon besar yang cukup rindang. Bahkan, beberapa pohon tumbuh di bagian teras masjid yang dikeramik. Hal tersebut membuat suasana di masjid ini cukup nyaman dan adem, padahal masjid ini berada di tengah Kota Cirebon yang dikenal panas.
Bangunan masjid ini berbentuk miring, searah dengan kiblat. Bagian bawah dinding dan tiang-tiang teras masjid, terbuat dari batu apung yang potong rapi. Bagian dinding, pintu, dan tiang-tiang terbuat dari bambu-bambu berbagai ukuran. Terdapat jarak antar bambu yang dideretkan tersebut sekitar 15 cm untuk bagian dinding, dan sekitar 20 cm untuk pintu. Sedangkan bagian pagar masjid dikelilingi tembok batu alam yang kokoh.
Bagian pintunya sendiri cukup unik, dengan bagian atasnya berbentuk setengah lingkaran. Untuk pintu utama, terdapat dua buah daun pintu yang sama sekali tidak menggunakan engsel. Sedangkan pintu samping hanya satu buah daun pintu yang juga tanpa menggunakan engsel. Hampir semua bambu di masjid ini tidak menggunakan paku untuk merekatkannya, melainkan dengan anyaman rotan yang cukup kokoh. Sehingga, masjid ini terlihat rapi.
Bagian plafon pun terbuat dari bambu-bambu yang direkatkan dengan anyaman rotan. Sedangkan bagian atapnya terbuat dari anyaman bambu, dan di bagian atasnya menggunakan rumbai-rumbai ala rumah-rumah pedesaan.
Keunikan lain dari masjid ini terletak pada hiasan-hiasan yang terbuat dari kerajinan kerang, seperti pada bagian lampu gantung, mimbar, serta gambar hiasan di bagian depan masjid yang membentuk lafadz Allah di bagian kanan dan lafadz Muhammad di bagian kiri, yang dikelilingi dengan gambar bambu dari kerajinan kerang.
Menurut salah satu pengunjung masjid yang kebetulan usai melaksanakan Solat Dhuhur, Najmudien (22), dirinya merasa nyaman saat menginjak masjid Ash Shamad. Dia kerap mendatangi masjid di saat waktu dhuhur dan Jumatan.
“Suasana tenang dan nyaman, seperti di pedesaan,” jelasnya, Kamis (9/5/2019).
Sedangkan menurut sang pemilik masjid yang rumahnya di samping masjid, Watid Syahriar, dirinya memang sengaja mendirikan masjid yang hampir semuanya terbuat dari bambu, serat menciptakan Susan yang tenang dan nyaman. Bambu jenis Betung yang digunakan sebagai bahan masjid tersebut didapatkan dari Majalengka.
“Bambu itu dikenal kuat kokoh dan awet. Makanya saya menggunakan bambu dalam pembuatan masjid ini,” jelasnya.
Masjid yang mulai digunakan pada tahun 2015 lalu ini, lanjutnya, sengaja diciptakan dengan arsitektur yang unik dan berbahan dasar alam dengan harapan membuat para pengunjung nyaman dan tenang. Dirinya sudah mempertimbangkan arsitekturnya, baik dari segi bahan dan kearifan lokal setempat. Beberapa di antaranya adalah kayu, bambu dan batu.
“Kalau yang kayu sudah ada, Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Kasepuhan, masjid berbahan batu sudah ada, Masjid Bata Merah Panjunan. Nah, bambu yang belum ada, sehingga saya menggagas dari bambu,” pungkasnya yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi B DPRD Kota Cirebon.
Masjid ini kerap digunakan untuk solat 5 waktu, solat Jumat, dan solat tarawih. Di salah satu sisi terdapat semacam tempat yang bisa digunakan untuk kegiatan mengaji. Selain itu, juga ada dapur dan toilet yang juga terbuat dari anyaman bambu.(Jfr)
Mengintip Suasana dan Keunikan Masjid Bambu di Kota Cirebon
Previous Post
Leave a Reply