Press ESC to close

Nelayan Sorong Hadapi Cuaca dan Kendala BBM, KNMP Didorong Perkuat Ekosistem Perikanan

  • September 25, 2026

Dejabar.id,SORONG — Kondisi cuaca laut dan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) menjadi dua hal yang turut menentukan aktivitas nelayan di Sorong, Papua Barat Daya. Bagi nelayan yang menggunakan perahu kecil, angin kencang dan gelombang tinggi dapat membatasi waktu untuk melaut.

Frans Worabay, salah seorang nelayan di Sorong, merasakan langsung bagaimana kondisi alam memengaruhi aktivitas penangkapan ikan.

Keputusan untuk pergi melaut harus disesuaikan dengan keadaan angin, gelombang, serta kemampuan perahu yang digunakan.

Persoalan tidak berhenti pada kondisi cuaca. Ketersediaan BBM juga menjadi kebutuhan penting bagi nelayan.

Ketika bahan bakar terlambat diperoleh, kesempatan untuk melaut bisa terlewat karena pasokan pada hari berikutnya belum tentu tersedia.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa produktivitas nelayan tidak hanya ditentukan oleh hasil tangkapan.

Infrastruktur pendukung, akses BBM, fasilitas penyimpanan, ketersediaan es, hingga jalur pemasaran juga menjadi bagian penting dalam menunjang kegiatan perikanan.

Salah satu program yang diarahkan untuk memperkuat ekosistem tersebut adalah Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Sorong.

Program ini dikembangkan dengan pembangunan sejumlah fasilitas yang ditujukan untuk mendukung aktivitas nelayan sekaligus menata kawasan pesisir.

Dalam aspek BBM, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggandeng Polri dan Pertamina Patra Niaga.

Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat keamanan kawasan sekaligus meningkatkan kemudahan nelayan memperoleh bahan bakar.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP Lotharia Latif mengatakan KNMP memiliki cakupan yang lebih luas daripada pembangunan infrastruktur.

“Jadi program KNMP ini tidak hanya membangun fisik dan pemberdayaan nelayan semata, namun juga memastikan keamanan dan ketertiban kawasan serta kemudahan akses bahan bakar minyak (BBM) bagi nelayan,” kata Lotharia.

Dalam pelaksanaannya, KKP menyiapkan data kebutuhan BBM nelayan dan mengusulkan titik layanan seperti Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN).

Sementara itu, Pertamina Patra Niaga berkaitan dengan kesiapan distribusi dan pasokan BBM di lokasi yang telah ditentukan.

KKP juga menyiapkan skema penyaluran BBM dengan harga khusus bagi kapal perikanan berukuran lebih dari 30 GT hingga 200 GT yang memenuhi ketentuan.

Kebijakan tersebut menjadi salah satu upaya untuk memastikan kebutuhan bahan bakar kapal perikanan dapat dipenuhi sesuai sasaran.

Di Kota Sorong, salah satu kawasan yang dikembangkan sebagai KNMP berada di Rufei.

Area tersebut disiapkan dengan berbagai fasilitas, seperti dermaga, cold storage, pabrik es, SPBUN, area UMKM, serta bengkel.

Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat mendukung rantai kegiatan perikanan, mulai dari aktivitas nelayan di laut hingga proses pendaratan, penyimpanan hasil tangkapan, dan kegiatan ekonomi di kawasan pesisir.

Namun, progres pembangunan perlu dibedakan dengan manfaat yang sudah dirasakan langsung oleh nelayan.

Frans Worabay mengetahui keberadaan pembangunan KNMP di kawasan Feri, tetapi belum merasakan manfaat langsung fasilitas tersebut dalam aktivitas melautnya.

Kondisi itu menjadi catatan bahwa ukuran keberhasilan KNMP bukan hanya seberapa banyak fasilitas yang dibangun. Pemanfaatan, kemudahan akses, kesiapan operasional, serta kesesuaian fasilitas dengan kebutuhan nelayan juga menjadi faktor yang menentukan dampaknya.

Pembangunan KNMP di Sorong sendiri mencakup sejumlah wilayah. Pemerintah mempercepat pengembangan di sembilan kelurahan, yakni Rufei, Doom Barat, Tanjung Kasuari, Remu Selatan, Doom Timur, Raam, Soop, Malawei, dan Saoka.

Dukungan terhadap KNMP juga disampaikan Kepala Suku Besar Maya Papua Barat Daya, Mhatius Samagita. Ia menilai program tersebut memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat pesisir yang selama ini bergantung pada laut.

“Masyarakat Suku Maya adalah masyarakat yang kehidupannya sangat bergantung pada laut. Karena itu, kami mendukung penuh hadirnya Kampung Nelayan Merah Putih,” ujar Mhatius.

Dengan demikian, KNMP Sorong dapat dipandang sebagai upaya membangun ekosistem pendukung perikanan, bukan sekadar proyek pembangunan fisik.

Keberadaan dermaga, pabrik es, cold storage dan fasilitas BBM perlu diikuti dengan pengelolaan yang efektif agar dapat digunakan secara optimal oleh nelayan.

Pada akhirnya, manfaat KNMP bagi nelayan Sorong akan terlihat dari seberapa mudah fasilitas tersebut diakses dan digunakan dalam kegiatan sehari-hari.

Faktor keselamatan melaut, ketersediaan BBM, penyimpanan hasil tangkapan, akses pasar, serta keberlanjutan pengelolaan menjadi bagian penting agar pembangunan tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat pesisir.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *