
SERANG, Dejabar.id – Lebih dari 2.500 Golok Ciomas diulas pada ritual Pengulasan Golok Ciomas oleh Godam Denok yang digelar setiap tanggal 12 Maulid (25/8). Ribuan golok Ciomas tersebut berasal dari berbagai daerah baik dari Banten maupun luar Banten.
Tradisi pemulasan golok Ciomas merupakan tradisi yang rutin dilaksanakan setiap memasuki tanggal 12 Robiul Awal atau bulan Maulid.
Tradisi ini rutin dilaksanakan oleh para pemilik golok Ciomas dan dilaksanakan Di Padepokan Godam Denok di Kampung Cihujan, Desa Lebak, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang Banten.
Disana, tradisi pemulasan golok Ciomas sudah berlangsung selama tujuh generasi. Para pemegang golok Ciomas dari berbagai penjuru datang untuk melakukan pemulasan golok dengan menggunakan Godam Denok.
Tradisi tersebut bukan tanpa alasan, golok Ciomas yang terkenal sakti sejak zaman dulu, konon katanya akan paripurna ketika sudah menjalani pemulasan selama tujuh mulud atau tujuh kali dalam tujuh tahun setiap bulan maulid.
Pelaksanaan pemulasan golok Ciomas juga menjadi pagelaran untuk pelestarian kesenian pencak silat, dimana banyak sekali peguron atau perguruan pencak silat yang hadir dan menampilkan kebolehan mereka di panggung yang disediakan. Bahkan, banyak yang berasal dari peguron-peguran yang berasal dari luar Kabupaten Serang.
Pewaris Godam Denok ke 7, Ki Duhari (54), mengatakan pemulasan golok Ciomas merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun di padepokan Godam Denok. “Setiap tahun rutin, setiap tanggal 12 Maulid, ini sudah pakemnya,” katanya, Selasa 25 Agustus 2026.
Biasanya, lanjut Ki Duhari, setiap tahunnya ada sebanyak 2.500 golok yang dilakukan pemulasan. Hingga Dzuhur, sudah ada sekitar 1.100 golok yang sudah selesai dipulas.
“Dari mana saja, ada yang dari Ciomas ada juga yang dari luar pulau seperti Lampung hingga Palembang,” tegasnya.
Ia mengatakan, selain melakukan pemulasan golok, di bulan maulid ini biasanya ia juga memproduksi golok Ciomas. Pembuatan biasanya dilakukan sejak tanggal 1 maulid hingga tanggal 30 maulid.
Ia mengatakan, proses pembuatan golok Ciomas memang seperti membuat golok pada umumnya. Namun, ada hal-hal khusus yang dilakukan yakni pembuatan Godam Denok dan penggunaan material khusus.
“Ada hal khusus, kita tempa dengan menggunakan Godam Denok, ini seperti stempelnya untuk golok Ciomas. Kalau untuk materialnya kita gunakan besi khusus, yakni pake besi sulangkar, besi inti, besi baca dan biasa,” tegasnya.
Sementara itu, ketua Padepokan Godam Denok, Bahroji, mengatakan tradisi Pemulasan Golok Ciomas menggunakan Godam Denok merupakan tradisi tahunan yang rutin dilaksanakan.
“kita terus lakukan upaya pelestarian secara masif dan melakukan pembenahan agar makna dan filosofi budaya ini bisa jadi filosofi kita dalam bermasyarakat dan bernegara,” ujarnya.
Ia mengatakan, Godam Denok dan golok Ciomas merupakan salah satu peninggalan leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan. Meskipun golok Ciomas sudah menjadi ikon Provinsi Banten, namun tak banyak orang yang memiliki semangat untuk melestarikan nilainya.
Ia mengatakan, sebelum melakukan pemulasan, pihaknya biasanya terlebih dahulu melakukan ziarah ke makam leluruh, yakni Ki Buyut Cengkuk, lalu melaksanakan kegiatan Marhaba.
“Setelah itu dilakukan pemulasan, selain itu kita juga melakukan pementasan seni, ini sebagai upaya untuk memberikan apresiasi terhadap peguron, karena golok dan peguron itu satu kesatuan yang enggak bisa terpisahkan,” tegasnya.
Ia mengatakan, banyak pemilik golok Ciomas dari berbagai daerah yang datang untuk melakukan pemulasan. Seperti dari Palembang, Lampung, Garut, Karawang, Kendal, Kalimantan hingga Jawa Barat. Selain itu, ada pula yang mengirimkan goloknya dengan menggunakan jasa antar untuk kemudian diulas.
“Jadi ada yang tidak datang, jadi goloknya dikirim untuk dilakukan pemulasan,” tegasnya.
Ia mengatakan, pada pemegang golok Ciomas, mereka mengenal istilah pemulasan 7 Maulid. Dimana adanya keterikatan golok Ciomas dan Godam Denok. Apabila sudah dilakukan selama 7 kali berturut-turut maka disebut paripurna atau sempurna.
Leave a Reply