DEJABAR.ID, CIREBON – Kabupaten Cirebon menjadi wilayah ke-160 secara nasional yang menjadi fokus penanganan stunting atau gizi buruk. Apalagi, berdasarkan catatan Kementrian Kesehatan RI di tahun 2018, sekitar 8,63% atau 220 balita di Kabupaten Cirebon terancam stunting.
Hal tersebut diungkapkan oleh Pj Bupati Cirebon Dicky Saromi dalam acara kampanye dan penggalangan komitmen dalam rangka pencegahan dan penanggulangan stunting di depan Kantor Bupati Cirebon, Jalan Sunan Kalijaga, Sumber, Kabupaten Cirebon, Jumat (25/1/2019).
“Sebanyak 8,63% balita di Kabupaten Cirebon terancam stunting,” jelasnya.
Dicky melanjutkan, penyebab utama stunting adalah asupan gizi yang tidak pas dalam masa golden age, yakni usia 2,5 tahun atau 1000 hari setelah lahir. Hal tersebut bisa meliputi asupan makanan, selama masa kehamilan, dan pola penanganan.
Karena itu, lanjutnya, dalam penanganan stunting ini, bukan hanya fokus kepada anak-anaknya saja, melainkan juga ibu-ibu yang sedang hamil. Dengan begitu, maka bayi dalam kandungan tersebut cukup asupan gizinya, bisa melahirkan dengan sehat, dan tahu apa yang harus diberikan kepada anak-anaknya dalam pola hidup dan gizinya.
Dicky mengakui, penanganan stunting ini bukan hanya urusan dinas kesehatan dan sektor kesehatan saja, pola penanganan ini menyangkut sekolah, keluarga, asupan gizi, dan sebagainya. Sehingga, semua bersatu padu dengan penanganan stunting.
“Ini bagian komitmen kita, karena jangan sampai stunting ini menjadikan generasi kita adalah generasi yang tidak kompetitif karena prestasi belajar menurun dan cepat tidak sehat akibat kekebalan tubuhnya terganggu,” pungkasnya.(Jfr)
Leave a Reply