6 Langkah Hadapi Quarter Life Crisis

Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

dejabar.id – Hidup adalah proses, sebuah perjuangan. Kadang senang, tak jarang pula sedih. Hampir setiap orang mengalami quarter life crisis. Quarter life crisis adalah fenomena yang terjadi ketika seseorang memasuki usia dewasa awal, tepatnya di antara usia 25 sampai dengan 35 tahun, dan berlangsung setidaknya satu tahun.

Pada krisis ini, yang mengalaminya akan mempertanyakan identitas dirimu. Krisis hidup ini akan menimbulkan depresi bahkan sampai berujung pada tindakan bunuh diri, tetapi bisa juga berfungsi sebagai sebuah titik balik untuk suatu perubahan transformatif. Studi mengenai quarter life crisis ini dikemukakan oleh Dr. Oliver Robinson.

Penelitian yang dilakukan The Guardian menyebut, 86 persen lebih milenial mengalami perasaan ini. Sederhananya, quarter life crisis adalah periode peralihan dari masa remaja ke kehidupan orang dewasa.

Dalam periode ini, sangat wajar jika kita merasa tidak percaya diri dalam mencapai kesuksesan. Ragu-ragu akan masa depan, dan rasa kecewa pada diri sendiri, khususnya menyangkut pekerjaan, keuangan, dan hubungan dengan orang lain.

Lebih lanjut, riset membuktikan bahwa generasi milenial saat ini memiliki quarter-life crisis yang lebih parah daripada generasi sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh pesatnya dan kuatnya pengaruh media sosial, di mana semua orang bisa ‘pamer’ soal kehidupan pribadinya.

Sehingga, sering kali membuat gagasan hidup orang lain terdistorsi. Parahnya, sering kali kesuksesan orang lain dijadikan sebagai tolak ukur untuk diri kita sendiri yang merasa masih berada di satu tempat yang sama. Ditambah lagi, terkadang kita sering terbebani oleh kesuksesan orangtua dan keberhasilan orang di sekitar kita.

Memang, quarter life crisis tidak pasti akan dialami oleh semua orang. Ada saja mereka yang tidak merasakan krisis hidup yang satu ini. Namun, tidak ada salahnya untuk mengetahui tentang krisis ini dan cara mengatasinya.

  • Berusaha terima kondisi

Pertama, perlu diingat untuk tidak menyangkal kondisi diri dan jangan lari dari masalah. Terima kenyataan bahwa kamu sedang mengalami krisis hidup. Tapi, menerima kondisi bukan berarti menyerah pada keadaan. Hanya saja, berdamai dengan diri sendiri akan membantumu untuk bangkit dari krisis hidup yang sedang melanda. Sikap yang terus memberontak hanya akan menimbulkan perasaan marah di dalam dirimu saja. Dan kemarahanmu itu hanya akan memperburuk kondisi hidupmu.

  • Berbagi rasa dan pikiran

Curhat merupakan cara yang tepat, sebisa mungkin jangan menyimpan sendiri perasaan depresi. Lebih baik ungkapkan emosi tersebut pada orang yang kamu percaya. Apalagi jika bercerita dengan teman yang sedang mengalami krisis serupa, berbagi pikiran, rasa, dan pengalaman bisa membuatmu lega.

Kamu ingin menangis? Silakan. Tidak ada yang aneh dengan hal itu. Terkadang, menangis justru akan membuatmu semakin kuat. Karena menangis berarti melepaskan beban mental yang tertumpuk di dalam hatimu. Dan setelah menangis, perasaanmu juga akan menjadi lebih ringan.

  • Berkonsultasi dengan mereka yang pernah melewati

Selain bisa mendapatkan solusi, hal ini juga bisa menguatkan mentalmu. Maka keberanianmu untuk bangkit akan mulai muncul. Nasihat dari mereka belum tentu bisa dengan mudah diaplikasikan, karena lebih gampang berbicara daripada bertindak, ya ‘kan? Tetapi, tidak perlu terburu-buru. Jalankanlah satu per satu, perlahan namun pasti. Jika kamu tak ingin menceritakannya kepada orang dekatmu, kamu bisa minta bantuan psikolog yang memang pakar dalam bidang ini.

  • Banyak membaca untuk menguatkanmu

Perbanyak pengetahuan tentang quarter life crisis, ilmu tersebut bisa didapatkan dari buku-buku self help atau buku psikologi. Bisa juga belajar dari dari pengalaman orang lain, tanda-tandanya, fase yang dilalui dan apa saja solusinya? Semakin banyak informasi yang kamu dapatkan, semakin terbuka pula pikiranmu. Kamu akan sadar bahwa kamu tidak sendirian. Banyak orang di luar sana yang juga mengalaminya. Hal ini akan semakin menguatkanmu. Kamu juga akan semakin paham langkah apa saja yang harus kamu ambil untuk keluar dari krisis hidup tersebut.

  • “Aku sekarang bukanlah aku yang dulu”

Kenali identitasmu yang baru. Karena pada umumnya, krisis dalam hidup akan membuat identitas seseorang berubah. Identitas diri itu mencakup cara pandang, nilai-nilai yang kamu anut, dan apa yang sesungguhnya kamu inginkan dalam hidup. Maka, kamu harus mengkaji ulang dirimu sendiri. Kenalilah dirimu yang baru.

Proses untuk mengenal diri sendiri ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Kamu perlu mencoba berbagai hal untuk dapat menggali identitas dirimu yang baru. Pertanyaan akan siapa dirimu memerlukan pembuktian yang berulang kali, hingga akhirnya kamu merasa yakin dengan jawabannya.

  • Rancang ulang tujuan hidupmu

Begitu mampu menerima dan mengenali dirimu yang baru, maka mulailah lembaran baru. Temukan tujuan hidupmu—yang sesuai dengan nilai-nilai yang kamu anut, dan rancang tahap-tahap untuk mencapainya.

Keberhasilanmu untuk bisa sukses mencapai tujuan hidup memang bukanlah perkara mudah. Bagi kamu yang sudah pernah merasakan bagaimana frustrasinya terkurung dalam lubang gelap, rasa takut untuk memulai sesuatu kembali dari awal merupakan hal yang sangat wajar.

Tapi ingatlah, keputusan ada di tanganmu. Apakah kamu akan menyerah kalah pada rasa takut yang terus menghantuimu? Ataukah kamu akan mengumpulkan keberanian dan berusaha mendaki tebing yang curam dan berbatu itu?

Itulah 6 langkah yang bisa sobat dejabar terapkan untuk menghadapi quarter life crisis. Tenang lah, semua akan baik-baik saja dan kamu bisa melaluinya.

“This too shall pass.”

Related posts

Leave a Comment