DEJABAR.ID, MAJALENGKA-Sudah hampir satu bulan, jagat dunia maya diramaikan oleh produk makanan bernama Siwang (terasi bawang). Setiap kemunculannya selalu disambut ramai ibu-ibu muda yang memesan melalui jejaring media sosial tersebut.
Membayangkan aroma harum bawang goreng dan terasi, sebagai lauk pauk nasi hangat membawa penasaran untuk menelusuri dimana asalnya produk Siwang yang kini booming di kalangan ibu-ibu muda tersebut.
Berada di jalan Pasantren, Blok Pahing, RT 02/03, Desa Salagedang, Kecamatan Sukahaji, seorang ibu enerjik bernama Sri Choeriyyah (Hafidzoh) rupanya di dapur dialah Siwang diproduksi. Uniknya, ia dibantu para ibu yang semuanya adalah tetangga sekaligus anggota Majlis Taklim pimpinan Sri Choeriyyah sendiri.
“Produk Siwang baru jalan tiga bulan ini, saya tidak menduga respon masyarakat cukup tinggi untuk memesan makanan Terasi Bawang yang sebenarnya merupakan lauk pauk jaman baheula, entah mungkin orang rindu makanan ini, pemesanan Siwang terus meningkat bahkan kini yang pesan juga istri-istri para pejabat di Majalengka,” katanya, Jumat (1/2/2019).
Dia memaparkan, diproduksinya Siwang terinspirasi dari oleh-oleh anaknya sepulang dari Brebes berupa bawang goreng, ia mengaku ingin membuat olah serupa namun memakai tambahan bahan lain yaitu terasi.
“Awalnya saya membuat hanya 3 kilogram Siwang sehari, kini sudah melonjak antara 30 Kg hingga 50 Kg sekali produk. Dibantu kurang lebih 10 orang yang semuanya adalah tetangga sekitar rumah yang membantu dalam mengupas, menyugu dan menggoreng bawang,” ungkapnya.
Kini, kata dia, hampir 150 toples berbagai ukuran dan 100 pouch Siwang diproduksi dalam setiap harinya. Dengan brand yang diberinama “Rajanya Siwang”, konsumen bisa memesan Siwang Original, Siwang Teri Pedas, Siwang Rajungan maupun Bawang Goreng tanpa Terasi.
“Alhamdulillah kini sudah memiliki agen Siwang sekitar 60 0rang di luar pemesan yang datang langsung ke rumah. Disamping itu, kini dukungan semua pihak untuk kemajuan usaha Siwang dalam memberdayakan masyarakat kecil disini luar biasa. Kedepan saya ingin produksi Siwang ini tumbuh besar dan tidak terbatas dikonsumsi warga Majalengka tapi juga di Jawa Barat dan di Indonesia,” imbuhnya.
Harapan Sri untuk tumbuh kembang usahanya yang memberdayakan masyarakat sekitar menurutnya perlu dukungan modal, kini menurut dia sedikitnya untuk 50 Kg Bawang yang ia produksi sedikitnya harus mengeluarkan Rp2 juta untuk biaya produksinya.
“Insya Allah dengan semakin banyaknya konsumen baik melalui medsos, orang per orang atau kenalan maupun agen, saya sedang menempuh permodalan melalui kelompok usaha dengan kepengurusan dari Majlis Taklim Darul Quran ini. Dengan memiliki modal, produksi Siwang akan bertambah, sehingga pemasaran akan semakin luas dan pemberdayaan masyarakat juga akan banyak merekrut tenaga kerja,” ungkapnya.
Kini Siwang tidak hanya beredar di wilayah Majalengka saja, wilayah 3 Cirebon dan Jakarta sudah berdatangan melalui pemasaran media sosial. Tak heran di dapur rumahnya yang luas emak-emak nampak sibuk mengupas, menyugu, menggoreng dan juga menyaring minyak dari hasil gorengan bawang dengan alat bernama spinner.
“Siwang olahan kita higienis, bahkan hasil gorengannya kita saring dengan spinner sehingga tidak ada minyak dalam kandungan bawang. Bawang renyah dan tidak lengket,” pungkasnya. (jja)
Viral, Terasi Bawang (Siwang) Makin Digemari Emak-emak Muda Majalengka
Next Post
Leave a Reply