Press ESC to close

Mengintip Sejarah Vihara Dewi Welas Asih, Klenteng Tertua di Kota Cirebon

  • February 2, 2019

DEJABAR.ID, CIREBON – Kota Cirebon memiliki salah satu vihara atau klenteng tertua, yakni Vihara Dewi Welas Asih. Vihara ini biasa digunakan oleh umat Budha untuk beribadah ataupun bersembahyang. Selain itu, Vihara ini juga kerap dikunjungi oleh wisatawan untuk berwisata sejarah dan budaya.
Menurut Pembina umat Budha Vihara Dewi Welas Asih, keberadaan Vihara ini tak jauh-jauh dari kedatangan etnis Tionghoa ke tanah Jawa. Tidak ada catatan sejarah yang menyebutkan awal mula pembangunan Vihara ini. Hanya saja, ada catatan dari Keraton Kesepuhan yang menyatakan bahwa bangunan pertama Vihara Dewi Welas Asih adalah tahun 1559.
Pada saat itu, para perantau dari negeri Tiongkok datang ke tanah Jawa sambil membawa Kongco dan Rupang atau patung Dewa Dewi, sebagai simbol keselamatan. Kemudian, mereka membangun sebuah bangunan kecil untuk menaruh Rupang dan Kongco tersebut, sekaligus sebagai tempat beribadah yang dihormati.
“Tidak ada catatan baik dari Tiongkok maupun dari Belanda tentang tahun awal pembangunan Vihara ini. Kita berpatokan saja pada catatan dari Keraton Kesepuhan yang menyatakan bangunan pertama ini sudah ada di tahun 1559,” jelasnya saat ditemui Dejabar.id di Vihara yang beralamat di Jalan Kantor Kota Cirebon, Sabtu (2/2/2019).
Karena banyak etnis Tionghoa yang datang, lanjutnya, bangunan di Vihara Dewi Welas Asih pun diperlebar dan diperbesar. Dan juga, dilengkapi dengan berbagai ornamen khas Tionghoa, seperti patung naga di atap, aksara Cina, meja altar, dan juga penambahan beberapa Kongco dan Rupang.
Dulunya, Vihara ini bernama Tio Kak Si. Namun, begitu memasuki masa Orde Baru di zaman Presiden Soeharto, di mana segala bentuk hal yang berbau Tionghoa dilarang, maka nama Vihara ini diubah menjadi Dewi Welas Asih.
Menurut Romo, nama Dewi Welas Asih diambil dari salah satu Rupang Dewi Kwan Im yang ada di dalam Vihara. Dewi tersebut memiliki sifat yang penuh kasih sayang atau dalam bahasa Jawa berarti Welas Asih. Sehingga, Vihara tersebut diubah menjadi Vihara Dewi Welas Asih.
“Tak hanya Vihara saja, nama-nama orang dan tempat juga ikutan diubah,” jelasnya.
Vihara ini pun masuk dalam situs dan cagar budaya yang dilindungi. Kini, Vihara ini semakin memperluas areanya hingga 1000 meter persegi. Vihara ini kini kerap dikunjungi oleh orang-orang, baik itu untuk beribadah, maupun wisata budaya dan sejarah. Bahkan setiap memasuki perayaan Imlek, Vihara ini mulai dikunjungi oleh banyak orang.
“Sekarang Vihara ini hanya dijadikan tempat ibadah dan wisata sejarah budaya saja,” pungkasnya.(Jfr)
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *