Press ESC to close

Aswaja Center NU Pangandaran Ingatkan Umat Islam Jangan Mudah Terprovokasi

  • February 7, 2019

DEJABAR.ID, PANGANDARAN-Aswaja Center Nahdladul Ulama (NU) Kabupaten Pangandaran babad hubbul wathan dalam rangka halaqoh yang ke XIII guna menanamkan jiwa nasionalisme dari perspektif Islam kepada masyarakat.
Menurut Direktur Aswaja Center NU Kabupaten Pangandaran, Rd Hilal Farid Turmudzi menyampaikan bahwa materi ini sengaja dibuka supaya umat Islam dipelosok daerah tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu radikal yang saat ini marak dihembuskan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Alhamdulillah animo masyarakat semalam masih terlihat berbondong-bondong datang untuk ikut pengajian halaqoh aswaja meski tanpa komando dari manapun,” singkatnya kepada Dejabar.id melalui rilis via pesan WhatsApp, Kamis (07/08/2019) pagi.
Sementara itu, Direktur Aswaja NU Center Tasikmalaya, KH Yayan Bunyamin yang juga menjadi pembicara menegaskan bahwa halaqoh tersebut merupakan tradisi bathsul qutub yang sudah mulai hilang.
“Zaman memang sudah beralih ke era digital, namun tradisi kajian ilmiah dalam islam ini jangan sampai hilang,” harap Yayan.
Nasionalisme dari perspektif islam, kata Yayan, sudah dicontohkan oleh Rasululloh pada saat beliau hijrah dari Makkah menuju ke Madinah.
“Saat itu kan Rasul berdoa supaya rasa cinta terhadap Makkah bisa tertanam dalam jiwa sebagai tempat kelahirannya,” kisahnya.
Yayan menyebutkan, Hal tersebut mengajarkan kepada umat Rasul supaya bisa cinta terhadap tanah air dan bangsa. Jadi kita juga harus cinta terhadap Indonesia.
Kan beberapa waktu lalu ramai isu bahwa Indonesia itu thagut karena tidak menggunakan syariat Islam, ini berarti mereka ngajinya belum sampai sana,” imbuhnya.
Lebih jauh, Yayan mengatakan  Pancasila dan Undang-Undang dasar sebagai ideologi bangsa yang sudah sesuai syariat Islam.
“Dalam teks-teks keislaman, baik Qur’an atau Hadits, itu tidak ada sistem politik yang dijelaskan. Namun lebih ke etika politik,” papar Yayan.
“Politik dalam Islam itu fleksibel dengan kondisi masing-masing negara, yang penting tujuannya mendekatkan kemaslahatan dan menjauhkan kemudharatan,” tambahnya.
Kata dia, “ini kan tujuan Islam. Jadi kalau kita melihat sistem politiknya, dari sejak wafatnya Rasul, sistem pemerintahan Islam terus bertransformasi. Transformasi ini terus berubah sejak masa ke masa, dari mulai sistem khilafah demokrasi, hingga republik yang berbentuk dinasti,” pungkasnya.(dry)
 
 
 
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *