Press ESC to close

Keunikan Empal Gentong Don't Worry, dari Menggunakan Bahasa Inggris Hingga Atraksi Melempar Daging

  • April 20, 2019

DEJABAR.ID, CIREBON – Jika berkunjung ke Balai Kota Cirebon yang terletak di Jalan Siliwangi, maka di salah satu sudut halamannya, tepatnya di sebelah kanan gedung Balai Kota, akan ditemukan sebuah gerobak empal gentong. Uniknya, di gerobak tersebut tertempel tulisan ‘Empal Gentong Dont Worry, menerima pesanan’.
Abdurrahman (41), sang pedagang empal yang beralamat di Karang Anyar Batembat Kecamatan Tengah Tani Kabupaten Cirebon tersebut, bukan tanpa sebab menyantumkan nama ‘dont worry’ yang artinya ‘jangan khawatir’ di gerobak empal miliknya. Karena sebelumnya, dia selalu kerap dipanggil Empal Gentong Don’t Worry.
Abdurrahman menceritakan, awal mula dia dipanggil Empal Gentong Don’t Worry sejak dirinya berjualan di kawasan kantor DPRD Kota Cirebon yang terletak di depan Balaikota Cirebon. Ketika ada pesanan, dan orang tersebut menanyakan ketersediaan stoknya, Abdurrahman selalu menjawab ‘dont worry’.
“Kalau ada yang tanya, lontongnya masih ada gak, nasinya masih ada gak, dagingnya masih ada gak, maka saja jawab ‘dont worry, masih ada’,” jelasnya saat ditemui dejabar.id di Balai Kota Cirebon, Sabtu (20/4/2019).
Hal tersebut dilakukan, karena dirinya kerap menyelipkan kosa kata bahasa Inggris dalam melayani pesanan, meskipun dengan menggunakan logat yang medok dan dicampur adukkan dengan bahasa Indonesia. Karena itulah, dia akhirnya dipanggil oleh orang-orang sebagai Empal Gentong Don’t Worry.
Abdurrahman mengakui, penggunaan bahasa Inggris dalam melayani pembeli adalah untuk menarik para pelanggan. Dirinya pun belajar sedikit demi sedikit kosa kata bahasa Inggris dari buku-buku milik anaknya. Bahkan, dia memiliki kamus bahasa Inggris sendiri.
Penggunaan bahasa Inggris ini sudah lama dilakoninya sejak 5 tahun terakhir. Awalnya, ayah 3 anak ini berjualan keliling dari satu tempat ke tempat lain sejak awal tahun 2000an. Lalu, dia pun mulai memilih mangkal berjualan. Awalnya di Pasar Keramat, lalu di depan Stasiun, kemudian pindah ke DPRD selama 5 tahun. Dia pun pindah lagi ke kawasan perkantoran Kota Cirebon di Bima. Dan terakhir, pindah ke Balaikota Cirebon sejak bulan Februari lalu.
“Sejak di DPRD saya pakai bahasa Inggris, sampai sekarang,” tuturnya.
Keunikan lain dari pemerintah jual Empal Gentong Don’t Worry ini, adalah saat dia membuat pesanan, dia selalu beratraksi melempar irisan daging terakhir empal gentong, dengan menggunakan pisau ke mangkok. Tak hanya itu, dia juga melempar garam dan penyedap rasa ke mangkok.
“Biar menarik pelanggan saja,” jelasnya.
Saat ini, Empal Gentong Don’t Worry ini biasa melayani para PNS yang ada di Balai Kota, maupun di gedung Setda yang ada di belakangnya. Selain itu, juga melayani para awak media yang kerap nongkrong di press room balai kota.
Dalam sehari, Abdurrahman bisa menghabiskan 100 mangkok empal gentong, dengan jeroan sebanyak 3 kg, daging sebanyak 5 kg, lontong 50 buah, dan nasi 3 kg. Dia juga menyediakan kerupuk rambak yang terbuat dari kulit kerbau, sebagai teman makan empal gentong.
Meskipun dia berdagang dari satu tempat ke tempat lain, dan sekarang mulai mangkal di Balai Kota Cirebon, Abdurrahman mengakui bercita-cita ingin mempunyai tempat sendiri. Sehingga nantinya, dia tidak perlu lagi berkeliling dan mendorong gerobak.
“Pengennya punya tempat sendiri biar jualannya enak,” pungkasnya.(Jfr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *