Press ESC to close

Gedung BAT, Saksi Bisu Kejayaan Industri Rokok di Kota Cirebon Era Kolonial

  • May 9, 2019

DEJABAR.ID, CIREBON – Kota Cirebon memiliki nilai sejarah yang panjang, sejak zaman Kerajaan Hindu-Budha, Kerajaan Islam, Kolonial Belanda, Kolonial Jepang, Kemerdekaan, hingga sekarang. Banyak bekas peninggalan dari kejadian-kejadian di masa lampau. Salah satunya adalah gedung peninggalan kolonial Belanda yang bernama British American Tobacco (BAT).
Gedung yang merupakan tempat industri pabrik rokok tersebut merupakan salah satu bangunan yang ikonik dari Kota Cirebon hingga sekarang. Dengan luas sekitar satu hektar, gedung ini terletak persis di tengah-tengah pusat kota, yakni di Jl. Pasuketan Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.
Gedung ini kerap menarik para warga Kota Cirebon maupun wisatawan dari luar Kota Cirebon. Karena, gaya arsitekturnya yang khas kolonial Belanda memang unik. Mereka kerap mengabadikan gedung tersebut dengan berfoto-foto.
Gedung yang oleh warga Cirebon dikenal sebagai Gedung BAT tersebut kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Cirebon. Sesuai dengan gaya arsitekturnya, bangunan ini dibangun pada masa kolonial Belanda, yakni 1924. Tahun pembangunannya terpampang di dinding bagian depan bangunan tua itu, yakni bertuliskan Anno 1924. Dengan demikian, sudah hampir satu abad lamanya gedung ini berdiri.
Salah seorang pengurus gedung BAT bernama Muhamad Yusuf mengatakan, Gedung BAT merupakan bangunan milik perusahaan asal Inggris yang difungsikan sebagai pabrik untuk pembuatan rokok. Rokok-rokok yang biasa diproduksi antara lain Lukcy Strike, Pall Mall, Ardath, Kansas, Commfill, dan sebagainya.
Adapun rokok-rokok yang diproduksi di bawah tahun 1960 adalah Double Ace, Gold Fish, Mascot, Medal, Kresta, Pirate, Bison, dan rokok khusus untuk militer.
“Tapi produksinya berhenti sejak 2010 lalu, karena penjualannya kian menurun. Sekarang produksinya sudah dipindahkan ke Malang di Bentoel Grup,” jelasnya saat ditemui di sekitaran Gedung BAT, Kamis (9/5/2019).
Gedung ini sempat memasuki masa-masa sulit, seperti pada masa Perang Dunia 2 dan sempat diduduki oleh Jepang. Enam tahun kemudian, BAT kembali memproduksi rokok dan mulai menujukkan kejayaan pada tahun 1949. Kemudian, mengubah namanya menjadi BAT Manufacture Indonesia Limited.
Kini, Gedung BAT hanya tinggal kenangan saja. Bangunan bersejarah tersebut menjadi saksi bisu atas kejayaan-kejayaan di masa lampau tentang produksi rokok.
Meskipun sudah tidak memproduksi lagi, lanjut Yusuf, Gedung BAT masih tetap dijaga dan dirawat hingga kini. Terdapat sekitar 10 satpam yang menjaga dan tiga orang yang merawat termasuk dirinya.
“Isi gedung kini sudah dikosongkan. Ruangannya pun banyak, ada ruang produksi, pengepakan, perkantoran, dan lainnya. Sekarang masih dijaga dan dirawat,” pungkasnya.(Jfr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *