Press ESC to close

Mitos Batu Bleneng, dari Penyumpal Gunung Ciremai, Hingga Awal Mula Leluhur Tanah Jawa

  • June 22, 2019

DEJABAR.ID, CIREBON – Jika melintasi Tol Cipali di KM 182, maka akan ada pemandangan sebuah batu besar berada di bibir tebing sebelah kanan, arah Cirebon menuju Jakarta. Oleh masyarakat, batu besar tersebut dinamakan Batu Bleneng.

Batu tersebut terletak di Gunung Salam, Desa Walahar, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon. Batu tersebut memiliki tinggi sekitar 5-6 meter. Konon katanya, batu ini merupakan batu mistis yang ada penunggunya. Saking mistisnya, banyak terjadi keanehan selama pembangunan Tol Cuplikan dari tahun 2011 hingga 2015.

Menurut salah satu warga sekitar, Hadi, sebagian masyarakat percaya, ada sesosok mahluk halus yang mendiami batu tersebut. Apalagi, batu tersebut sudah lama ada di situ.

“Ada yang bilang kalau batu itu jadi ‘Sumpel’ alias penutup sebuah lubang dari Gunung Ciremai,” jelasnya saat ditemui dejabar.id di lokasi sekitar Batu Bleneng, Sabtu (22/6/2019).

Dikatakan Hadi, masyarakat menganggap batu tersebut sangat keramat. Karena, fungsnya yang sebagai ‘Sumpel’ atau penutup sebuah lubang, sehingga jika batu tersebut dipindah, maka malapetaka akan terjadi.

“Batu itu penyumbat aliran air. Sehingga kalau dipindah, maka akan ada malapetaka,” jelasnya.

Hadi melanjutkan, ada juga yang mengatakan kalau batu ini jadi pertanda asal mula Pulau Jawa. Menurut cerita, ada perjanjian antara raja jin dan leluhur tanah Jawa. Raja jin ini konon berhasil ditaklukkan oleh leluhur tanah Jawa tersebut. Sehingga akhirnya, raja jin tersebut diminta untuk menjaga batu tersebut yang menjadi awal mula Pulau Jawa.

“Makanya, raja jin tersebut tetap melaksanakan janjinya hingga sekarang untuk menjaga batu tersebut,” jelasnya.

Batu Bleneng menjadi banyak pembicaraan orang, karena banyak kejadian aneh selama pembangunan Tol Cipali. Apalagi, posisinya yang tak bisa dipindahkan. Akibatnya, jalur tol yang seharusnya lurus, menjadi dibelokkan membentuk huruf S, menghindari batu tersebut.

Jalur yang membelok tersebut juga atas permintaan warga, karena jika batu tersebut dipindah, maka akan menjadi malapetaka.

Hadi sendiri sempat menyangkan, karena saat pembuatan jalan tol, pihak pekerja tidak meminta izin kepada penunggu Batu Bleneng tersebut. Mengingat, penunggu Batu Bleneng merupakan leluhur dari masyarakat Jawa.

“Mereka tidak meminta izin penunggu batu ini,” pungkasnya.(Jfr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *