Press ESC to close

Mengenal 'Jeh', Kata yang Populer Bagi Masyarakat Cirebon dan Indramayu

  • June 29, 2019

DEJABAR.ID, CIREBON – Masyarakat Cirebon dan Indramayu, tentunya sudah tidak asing dengan kata ‘Jeh’. Kata ini kerap digunakan oleh masyarakat Cirebon dan Indramayu sebagai penegasan dari sebuah kalimat. Sehingga, tidak heran jika ada orang yang menggunakan kata tersebut di akhir kalimat, bisa dipastikan itu adalah orang Cirebon atau Indramayu.

Menurut Sejarawan dan Budayawan Cirebon, Nurdin M. Noer, Bahasa Cirebon tidak lepas dari Bahasa Sansekerta. Bahkan dirinya berpendapat, jika Bahasa Sansekerta Kontemporer adalah Bahasa Cirebon. Dan Bahasa Cirebon yang sekarang adalah 80% diambil dari kosakata Bahasa Sansekerta.

Nurdin melanjutkan, adapun kata ‘Jeh’ memiliki makna ‘katanya’. Kata ini biasa digunakan sebagai penegasan dari sebuah kalimat atau percakapan, dan biasanya ditempatkan di akhir kalimat.

“Iya, Jeh. Priben, Jeh. Sira priben, Jeh. Yang artinya iya, katanya. Gimana, katanya. Kamu gimana, katanya,” jelasnya saat ditemui dejabar.id di kediamannya di Kota Cirebon, Sabtu (29/6/2019).

Nurdin menjelaskan, Bahasa Cirebon merupakan bahasa yang sendiri, terlepas dari Bahasa Jawa, baik itu di Jawa Tengah, Yogyakarta, maupun Jawa Timur. Sehingga, Bahasa Cirebon bukanlah Bahasa Jawa dengan dialek Cirebon.

Menurut penelitian dari Balai Basa Bandung Kemendikbud, lanjut Nurdin, bahwa perbandingan antara kosakata Bahasa Jawa dengan Cirebon, perbedaanya mencapai 76%. Sedangkan menurut teori bahasa yang dikembangkan masyarakat internasional, minimal 80% baru bisa disebut bahasa yang mandiri. Tapi teori ini dibantah oleh Profesor Lauders, dosen Universitas Indonesia asal Belanda, bahwa tidak harus 80%, tapi 70% saja sudah cukup.

“Sehingga Bahasa Cirebon adalah bahasa yang mandiri, layak disebut Bahasa Cirebon, bukan Bahasa Jawa dialek Cirebon,” tuturnya.

Bahasa Cirebon ini mengalami perjalanan panjang. Awalnya, masyarakat Cirebon menggunakan Bahasa Sunda Kuno. Karena dulunya wilayah Cirebon masih merupakan wilayah Kerajaan Pajajaran, sebelum Pangeran Walangsungsang, sang pendiri Cirebon, lahir. Kemudian, wilayah Cirebon pun didatangi oleh orang-orang dari Jawa, Arab, India dan Cina. Sehingga, terjadilah percampuran budaya dan lahirnya Caruban atau Cirebon, yang artinya campuran.

Wilayah Cirebon kemudian dikuasai oleh Kerajaan Mataram. Mereka mengajarkan budaya dan bahasa Jawa kepada bangsawan-bangsawan yang ada di keraton-keraton. Sehingga, Kesultanan Cirebon kebanyakan menggunakan Bahasa Jawa. Sedangkan bahasa Sansekerta digunakan oleh masyarakat biasa, dan justru menjadi bahasa rakyat.

“Kata ‘Jeh’ sendiri sudah mulai digunakan sejak sebelum kemerdekaan,” jelasnya.

Nurdin sendiri mengakui, nasib Bahasa Cirebon saat ini seperti Bahasa Indonesia saja, yang dianggap Bahasa Melayu dengan dialek Indonesia. Padahal, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang mandiri, meskipun ada beberapa kemiripan kosakata.(Jfr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *