Press ESC to close

Lestarikan Musik Tradisional, Dewan Kesenian Kota Cirebon Gelar Festival Musik Nusantara

  • June 30, 2019

DEJABAR.ID, CIREBON – Kesenian musik tradisional saat ini sudah berada di tahap yang menyedihkan. Keberadaannya mulai tergerus zaman dan kalah bersaing dengan musik-musik tradisional. Anak-anak mudah generasi sekarang lebih senang mendengarkan musik modern dibandingkan dengan musik tradisional.

Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia. Karena kesenian musik tradisional merupakan jati diri dan identitas bangsa. Karena itu, perlu adanya upaya untuk melestarikan kesenian musik tradisional, agar bisa tetap lestari dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Seperti yang diinisiasi oleh Dewan Kesenian Kota Cirebon, melalui Komite Musik, yang menggelar acara Festival Musik Nusantara di Gedung Kesenian Nyi Mas Rara Santang, Kota Cirebon. Kegiatan tersebut menggandeng seniman-seniman muda, untuk bisa menampilkan hasil kolaborasi etnik musik kontemporer notasi Nusantara, dengan musik modern.

Menurut Ketua Panita, Yana Hindia, Festival musik Nusantara ini merupakan festival musik yang pertama kalinya digelar di Kota Cirebon. Acara ini diinisiasi oleh Dewan Kesenian Kota Cirebon, yang berkerja sama dengan pemerintah Kota Cirebon. Tujuannya adalah agar masyarakat Kota Cirebon, terutama kalangan muda, agar lebih mengenal dan melestarikan nilai musik budaya.

Bahkan, lanjutnya, tidak hanya dari Cirebon saja, ada juga yang dari Wilayah III Cirebon, seperti Indramayu, Majalengka, Kuningan, serta ada yang dari Bandung dan Banten. Adapun total peserta sebanyak 13 kelompok musik yang beranggotakan anak-anak muda bertalenta.

“Dengan mengkolaborasikan ini, mereka tetap bisa memainkan musik modern, tapi juga tidak melupakan musik tradisional,” jelasnya, Sabtu (29/6/2019).

Yana melanjutkan, beberapa kelompok musik yang hadir yakni Rebon Charuban, Taring Pring, Xamagata, Unique Ethnic, Astana Gending Sejati, Kandangsora, Priband, Panalar Rasa, Asmarandana, Edonesya, Kebonsora, Swaratala, dan Raya Pro. Beberapa diantaranya bahkan memainkan musik tradisional yang sudah sangat jarang sekali, seperti musik Tayuban, Tarinding, dan Sunda Kuno.

“Tayuban ini sudah hampir punah. Dulu biasanya dimainkan saat upacara adat Keraton, mengisi kegiatan etnis Tionghoa, dan lain-lain,” jelasnya.

Tak hanya kesenian musik yang ditampilan, lanjut Yana, di Festival Musik Nusantara juga juga ditampilkan seni rupa, seperti seni lukis, pertunjukkan tari tradisional, serta bekerja sama dengan komunitas dan sanggar di Cirebon dengan menghadirkan bazar dan workshop tentang kesenian tradisional.

Dengan adanya Festival Musik Nusantara ini, lanjutnya, para generasi muda bisa lebih menggali potensi-potensi budaya yang ada di Indonesia. Sehingga, kesenian tradisional akan tetap lestari, tidak kalah dengan gempuran musik-musik modern.

“Tentunya ini sangat menarik dan gairah untuk kita semua, agar kesenian tradisional lebih melekat kepada generasi muda,” pungkasnya.(Jfr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *