DEJABAR.ID, CIREBON – Kawasan Jamblang, Kabupaten Cirebon, merupakan salah satu kawasan Pecinan yang cukup tua di wilayah Cirebon. Di kawasan yang dilalui oleh sungai Jamblang, banyak terdapat bangunan-bangunan tua peninggalan zaman Belanda. Bahkan, ada salah satu bangunan yang lebih tua lagi, dan menjadi salah satu ikonnya Pecinan Jamblang, yakni Klenteng Jamblang.
Klenteng Jamblang atau Vihara Dharma Rakhita ini, merupakan salah satu bangunan tua yang sudah berusia ratusan tahun. Konon katanya, klenteng ini berusia sama dengan Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang ada di dekat Alun-Alun Keraton Kesepuhan Cirebon, yakni sekitar tahun 1500an. Hal tersebut tidak terlepas dari kisah sejarah yang melatarbelakangi pembangunan klenteng ini.
Menurut Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat, ketika Masjid Agung Sang Cipta Rasa sedang dibangun sekitar tahun 1480 M, ada komunitas Tionghoa dari wilayah Jamblang, yang akan membangun sebuah klenteng, datang ke tempat pembangunan masjid. Mereka pun meminta sisa kayu jati yang digunakan untuk membangun tiang masjid.
“Akhirnya Sunan Gunung Jati yang pada waktu itu memimpin Kesultanan Cirebon, mengizinkan agar komunitas Tionghoa itu meminta kayu,” jelasnya, Sabtu (6/7/2019).
Kayu tersebut pun akhirnya dibawa oleh komunitas Tionghoa tersebut ke Jamblang, dengan menggunakan pedati. Akhirnya, kayu tersebut digunakan sebagai ‘wuwungan’, yang dalam Bahasa Jawa artinya atap. Hingga sekarang, atap yang berasal dari kayu Masjid Agung Sang Cipta Rasa tetap dipertahankan keasliannya.
Konon katanya, lanjut Sultan, kayu tersebut sempat mengeluarkan air, seolah seperti menangis. Hal tersebut kemungkinan dikarenakan kayu tersebut bersedih karena tidak dijadikan kayu untuk masjid, melainkan untuk klenteng.
Dengan adanya kisah sejarah tersebut, lanjut Sultan, merupakan bukti bahwa masyarakat Cirebon sudah menjunjung tinggi toleransi sejak zaman dahulu kala. Hal itulah yang membuat budaya Cirebon ini unik, dengan segala macam akulturasinya.
“Cirebon sudah menjunjung tinggi nilai toleransi, dari dulu hingga sekarang,” pungkasnya.(Jfr)
Leave a Reply