Press ESC to close

Akhirnya! Kota Cirebon akan Miliki Politeknik Pertama

  • January 14, 2019

DEJABAR.ID, CIREBON-Kota Cirebon akhirnya akan memiliki Politeknik pertama, yakni Politeknik Pariwisata Prima Internasional yang dikelola oleh Yayasan Ardiantana. Politeknik tersebut mempunyai 3 Program Studi, yakni Diploma III Perhotelan, Sarjana Terapan Pengelolaan Perhotelan, dan Sarjana Terapan Pengelolaan Konvensi dan Acara.
Menurut Direktur Politeknik Pariwisata Prima Internasional, Chondro Suryono, pembentukan Politeknik tersebut merujuk pada Surat Keputusan Menteri Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi republik Indonesia Nomor :945/KPT/I/2018 Tentang Izin Pendirian Politeknik Pariwisata Prima Internasional yang diserahkan oleh Kepala LLDIKTI Wilayah IV di Ballroom Hotel Prima Cirebon, Sabtu (12/1/2019) kemarin.

“Politeknik ini dikarenakan sekarang pemerintah memfokuskan pembukaan politeknik dan institut. Karena dengan adanya 3500 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia, ini merupakan salah satu perguruan terbanyak di dunia,” jelasnya.

Apalagi, lanjutnya, kriteria Indonesia ternyata tidak bisa masuk 10 besar dunia. Maka, pemerintah sekarang ingin memperkecil dengan asumsi bahwa Indonesia harus masuk ke tingkat dunia.

“Kita melihat itu, karena saat ini yang dibuka Kemenristek Dikti ada dua yaitu politeknik dan institut. Kami awalnya D3 Perhotelan, sekarang ditingkatkan menjadi politeknik, ini peluang dari pemerintah makanya kami ambil,” jelasnya.

Chondro melanjutkan, meskipun Surat Keputusan dari Kemenristek Dikti secara resmi keluar pada tanggal 30 Oktober 2018, tetapi untuk penerimaan mahasiswa baru akan dilaksanakan pada tanggal 1 September 2019 nanti.

Adapun untuk pembelajarannya adalah 60% praktik dan 40% teori, dan ditambahkan dengan kompetensi dari asosiasi yang menyelenggarakan sebuah keterampilan yang diakui, selain ijazah ada namanya SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah).

Sedangkan untuk Kurikulum yang diunggulkan berbasis KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia), tambahnya, mengacu pada MRA (Mutual Recognition Agreement) agar lulusan dapat bekerja dikawasan Asean.

“Karena sudah mempunyai kesepakatan bahwa kurikulum harus sama, dengan tujuan lulusan bisa bekerja di negara kawasan Asean dengan kurikulum yang sudah sama,” pungkasnya.(Jfr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *