Batik Kriyan Cirebon, Si 'Balita' yang Mampu Bersaing dengan Seniornya


Dejabar.id, Cirebon – Cirebon dikenal dengan Batik Trusmi dan Batik Ciwaringin. Batik-batik tersebut memiliki keunikan dan kekhasan motif, seperti Motif Mega Mendung. Kedua batik tersebut sudah dikenal di mana-mana.

Selain kedua batik tersebut, ada juga motif batik yang menjadi pendatang baru di dunia batik Cirebon, yakni Batik Kriyan. Batik ini mungkin masih cukup asing. Namun, meskipun masih berusia ‘balita’, yakni 2 tahun, Batik Kriyan mampu bersaing dengan seniornya yang sudah lama melanglang buana.

Nama Batik Kriyan diambil dari asal daerah di mana batik itu tercipta, yakni Kampung Kriyan Kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon. Batik ini memiliki keunggulan tersendiri karena pewarnanya menggunakan bahan-bahan alami yang banyak terdapat di daerah itu.

Motifnya pun dikenal baru di dunia perbatikan, karena berasal dari bentuk daun-daunan yang juga banyak tumbuh di Kampung Kriyan seperti motif daun kersem, daun jati, daun pandan, motif perahu, wayang, dan lainnya. Batik Kriyan pun tercipta dari tangan-tangan terampil warga setempat yang diberi kebebasan menentukan motif batiknya.

Menurut Ketua RW 17 Kelurahan Pegambiran Kecamatan Lemahwungkuk, Bambang Jumantra, Batik Kriyan sendiri merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Cirebon dengan Korea Arts & Culture Education Service (KACES), yang membentuk kelompok masyarakat memberikan pelatihan dan pendampingan mulai dari menentukan motif, memproduksi batik, hingga menjual batik.

Warga kampung Kriyan pun sangat antusias menyambut tawaran dari Pemerintah Kota Cirebon dan pihak swasta yang memproyeksikan Kriyan Barat sebagai kampung batik. Hal itu akan mengubah pola pikir warga dan image kampung Kriyan sebagai daerah kumuh, angka putus sekolah tinggi, dengan tingkat kriminalitas cukup tinggi pula.

“Warga sangat senang. Karena mereka juga resah dengan julukan negatif atas kampungnya sendiri. Intinya warga di sini ingin berubah dan ingin maju seperti daerah lainnya,” jelasnya, Selasa (13/8/2019).

Bambang melanjutkan, ada sekitar 22 warga yang ikut pelatihan, di mana mayoritas adalah ibu-ibu rumah tangga ada satu orang difabel dan satu warga yang putus sekolah.

Batik garapan Kampung Kriyan ini memiliki motif batik yang terinspirasi dari tanaman yang ada di sekitar kampung tersebut. Dan juga, memanfaatkan sumber daya alam sekitar untuk pewarnanya, seperti dari kulit manggis, daun pandan, buah binahong, biji jolawe, dan kulit kayu mangrove.

“Batik andalan kami yaitu batik motif daun dan bunga kersen,” tuturnya.

Meskipun belum dipasarkan secara bebas, lanjutnya, warga kini sudah bisa memproduksi batik khas Kampung Kriyan dengan motif dijamin anti mainstream. Hasil batiknya juga masih perlu polesan sedikit.

Bambang menceritakan, ada beberapa pejabat dan instansi yang sudah beli batik dan dibawa ke Korea dan Amerika, entah untuk dijual atau pribadi, dengan jumlah yang lumayan banyak. Batiknya juga aktif mengikuti pameran-pameran yang digelar oleh Pemerintah Daerah.

Bambang berharap, di atas Batik Kriyan terukir harapan warga untuk merubah nasib dan perekonomian keluarga yang lebih baik.

“Warga memiliki tekad yang kuat supaya batik produksinya dapat menembus pasar nasional dan internasional,” katanya.

Sedangkan menurut Camat Lemahwungkuk Kota Cirebon, Ma’ruf Nuryasa, untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan Batik Kriyan, dirinya langsung mengambil langkah cepat dengan meminta perangkat dan warganya memakai Batik Kriyan. Cara ini dinilai efektif untuk menjaga semangat produsen batik dan teknik jitu dalam berpromosi.

“Kalau batiknya dipakai sama orang-orang dekat, warga yang bikinnya juga pasti senang. Apalagi, dipakai ke acara-acara resmi seperti rapat-rapat, pertemuan dengan Pemda, atau dipakai ke acara pernikahan, otomatis menjadi bahan promosi bagi Batik Kriyan,” pungkasnya.(Jfr)