Press ESC to close

Di Pesantren Zikr Al Fath Sukabumi, Saya Menemukan Kegembiraan Nusantara

  • February 9, 2019

Oleh Dicky B Chandra
 
Di hari kedua Safari Kebangsaan PDI Perjuangan dengan rute Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Jadwalnya pagi jam 8 kami sudah harus bersiap di bis rombongan jurnalis. Setelah menikmati sarapan dan suasana pagi yang lembut, kami berangkat ke arah Pesantren Gunung Puyuh Sukabumi. Kemarin sore sesaat kami mau berangkat ke Sukabumi dari Cianjur,  Wasekjen PDIP Ahmad Basarah bicara pada saya “Besok kita akan berangkat Pesantren Dzikir Al Fath, pesantren ini menarik karena selain belajar tentang seluk beluk agama Islam juga mengenalkan budaya Sunda sebagai sebuah katalisator rasa budaya manusia, budaya Sunda dikenalkan untuk menghaluskan hati, melatih kemanusiaan untuk menemukan kegembiraan dalam beragama”.
Penasaran juga rasanya ingin tau, apa sih bedanya Pesantren Dzikir Al Fath dengan Pesantren lainnya, terutama dalam pola pendidikannya.
Ketika rombongan sampai, kami disambut barisan santri santri yang mengenakan pakaian pangsi dan iket kepala. Sementara Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Wasekjen PDIP Ahmad Basarah  mengenakan pakaian pangsi Sesundaan warna merah dan iket kepala, sementara Ketua DPD Jabar TB Hasanudin mengenakan baju Pangsi Hitam gaya pendekar Silat Sunda. Sambutan dilakukan dengan seremonial yang cantik.
Barisan santri yang berjajar di samping menghaturkan salam selamat datang, lalu di ujung dalam tiba tiba keluar rombongan penyambut, ada seseorang berjalan mirip gaya Semar seperti yang sering saya lihat di TVRI dulu, Ria Jenaka. Pembuka jalan bergaya Semar itu kemudian membuka rombongan penyambut Sekjen PDI Perjuangan dan rombongan tamu untuk masuk, lalu para santri di samping barisan memperlihat pembuka jalan dengan gaya kuda-kuda dalam silat.
Kemudian berjalan ke depan para Ahlul Bait Pesantren Dzikir Al Fath, yang dipimpin Prof. DR KH Fajar Laksana, menyambut rombongan Sekjen PDIP. Kyai berwajah tirus  dengan kumis serta janggut dan sorot matanya berwibawa itu menyambut Sekjen PDIP lalu mempersilahkan masuk. Semua disambut kegembiraan budaya.
Rombongan PDIP dan Jurnalis kemudian diajak ke Museum Siliwangi. Kebudayaan memang langkah pertama dalam mengenalkan rasa budaya para santri seiring mempelajari agama Islam, hal ini dilakukan agar hati para santri dipenuhi perasaan latif (kelembutan), dengan rasa budaya yang lembut maka naluri mempelajari agama akan dipenuhi rasa kemanusiaan yang mendalam.
Kemudian setelah melihat lihat Museum, Pak TB Hasanudin tiba tiba memainkan seni silat dengan tongkat, pikiran saya langsung melayang jago toya di film kungfu Sin Tiaw Eng Hiong, Ang Cit Kong namanya yang pandai bermain tongkat, walaupun gerakan dilakukan lamban namun gerakan Pak TB jelas memperlihatkan kelenturan permainan silat gaya Sunda. Semua tertawa gembira saat Pak TB dengan lihai mempermainkan tongkat dengan seni silat yang ia kuasai.
Setelah Pak TB main toya, giliran Mas Hasto memainkan tongkat penyambutan. Tidak seperti Pak TB yang lentur memainkan tongkat, Mas Hasto rupanya menggunakan kekuatan batin dulu sebelum menggerakkan tongkatnya, ia menunduk di depan tongkat seperti merapal sesuatu lalu menggerakkan tongkat, gaya silat Mas Hasto seperti gaya silat Mataraman dalam memainkan tongkat, seperti Kyai Gringsing dalam “Api di Bukit Menoreh”. Tongkat penyambutan itu kemudian diserahkan dan Pak KH Fajar Laksana dengan kagum mengatakan “Luar Biasa, seperti seorang pemimpin…”
Acara kemudian dilanjutkan dengan menaiki lisung. Ada semacam lesung (penumbuk padi) yang digotong empat orang, saya menanyakan ke salah seorang santri disana apa makna lisung yang dinaiki Sekjen PDI Perjuangan. Ternyata lisung yang digotong itu bermakna kepemimpinan, sebuah negara yang digotong oleh banyak orang yang dimaknai sebagai pemimpin rakyat, dalam permainan lisung di Pesantren Dzikir Al Fath, lisung itu biasanya ditepuk oleh pimpinan pesantren kemudian berputar-putar, putaran dalam lisung itu bermakna sejarah sebuah negara penuh gejolak namun bila para pemimpin mampu menggotong dengan stabil maka stabil pula negara. Memang kalau kita perhatikan dalam kebudayaan Nusantara makna-makna menjadi penting.
Setelah seni permainan lisung, maka kegembiraan selanjutnya adalah “Permainan Bola Api”, lagi lagi disini Mas Hasto menjadi bintangnya dan secara jenaka memainkan permainan bola api, Sekjen PDIP itu awalnya ragu ragu melihat bola api yang melayang ditendang tendang, tapi bagaimanapun ia adalah Sarjana Teknik Kimia, secara cepat ia paham bagaimana teori panas bekerja. Bola Api itu kemudian tidak ragu ia mainkan.
Kemudian penonton tertawa senang. Kunjungan ke Pesantren ini penuh dengan kehangatan.
Pesantren Dzikir Al Fath, memang unik. Pesantren yang mendidik santrinya mengenalkan budaya Sunda, mengajarkan sejarah penyebaran Islam di tanah Pasundan, menggali akar akar kebudayaan Sunda yang bisa menggerakkan hati untuk lebih dalam belajar pengetahuan Islam. Karena mereka percaya bahwa dengan belajar dari kebajikan kebajikan para penyebar Islam, bisa diambil ilmu pedagogi yang mampu membina santri untuk memahami makna makna kebudayaan dalam pengenalan agama. Di Pesantren dijalankan ibadah ihya’ as-sunnah, menghidupkan Sunnah mulai dari Qiyamul Lail, Sholat Berjama’ah, Sholat Dhuha, di siang hari para santri diwajibkan menghapal Al Qur’an lalu Muraja’ah (Mengulang Hapalan Al Qur’an).
Pesantren ini mendidik pengetahuan agama yang luas, wawasan kebudayaan yang otentik tumbuh di bumi Nusantara, juga pesantren ini diajarkan secara lugas pengetahuan kewirausahaan, agar santri terampil dalam berwirausaha dan berani menantang kehidupan dengan jiwa enterprenurship, karena dengan keterampilan wirausaha yang tinggi maka kehidupan keberagamaan juga semakin marak, pengembangan inilah yang patut diacungi jempol.
 
*Dicky B Chandra adalah Kolumnis di Pepnews, Pengamat Komunikasi Politik  S2 Universitas Budi Luhur Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *