Eksis Lestarikan Seni Budaya Sunda, LAK Galuh Pakuan Jadi Bahan Penelitian Mahasiswa Pascasarjana UPI

2 min


594

Dejabar.id, Subang –  Guru Besar Pendidikan Seni, sekaligus Pengajar S1 Dept. Pendidikan Tari Fakultas Pendidikan Seni Dan Desain (FPSD), Program Study S2 dan S3 Pendidikan Seni Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPU) Bandung Prof. Dr. Tati Narawati mengatakan, alasan Lembaga Adat Karatwan (LAK) Galuh Pakuan dijadikan objek pemelitian atau tesis pascasarjana S2 UPI Bandung. Karena dirinya melihat keberadaan LAK Gakuh Pakuan cukup unik, di era millenial saat ini.

Sosok seorang Raja LAK Galuh Pakuan Rahyang Mandalajati Evi Silviadi, memiliki ciri khas dan kekuatan dalam mengaktifkan masyarakatnya, dengan modal sosial yang hidup ditengah-tengah era millenial. Juga modal kultur yang ada di Kabupaten Subang cukup beragam dan mendukung, serta modal kavital yang menjadikan LAK Galuh Pakuan saat ini menjadi kuat di masyarakat LAK Galuh Pakuan.

“Ketiga unsur itulah yang menjadi sumber kekuatan LAK Galuh Pakuan menjadi besar, dan itulah alasan mahasiswa Pascasarjana UPI  melakukan penelitian  untuk Tesis maupun Desertasi,” kata Prof Tati kepada wartawan disela-sela Seminar dan Workshop “Penguatan Karakter Melalui Pendisikan Seni” di Subang, Minggu (8/12/2019).

Tati yang akrab dipanggil Prof. Nara menjelaskan juga tentang hal seni dan budaya serta tradisi yang dijaga dan dilestarikan di LAK Galuh Pakuan saat ini, tidak seperti yang terjadi di beberapa Istana atau Keraton Kerajaan lain di Nusantara, yang mana mereka cenderung mempertahankan tradisi Istana dalam penyambutan para tamu kerajaan, termasuk dalam acara penobatan Raja-raja yang menjadi ciri khas di istana tersebut.

Alangkah baiknya dikatakan Nara, di LAK Galuh Pakuan sendiri harus memiliki tarian yang khas. Tentu saja tarian ini tidak hanya sekedar koreografi gerak mengerakkan saja, yang membuat sebuah gerakan tarian. Tetapi semua gerakan itu harus memiliki makna yang dalam, seperti yang terkandung dalam mahkota Raja LAK Galuh Pakuan Rahyang Mandalajati Evi Silviadi yaitu “Galagar Odeng”.

“Kalau berkaca kepada tarian yang dimiliki sejumkah komunitas Istana dan keraton di nusantara ini, merekanmemiliki tarian yang khas. Dan alangkah baiknya LAK Galuh Pakuan juga memiliki tarian khas tersendiri. Misalnya kita melakukan kajian gerakan tarian dari filosofi “Galagar Odeng” yang menjadi mahkota Raja LAK Galuh Pakuan Rahyang Mandalajati Evi Silviadi. Sehingga setiap gerakannya nanti memiliki makna yang mendalam, sekaligus menjadi jati diri LAK Galuh Pakuan di nusnatara ini,” tegasnya.

Jadi gerakan tarian “Galagar Odeng” yang akan diciptakan para mahasiswa S2 UPI itu lanjut Nara, harus memiliki pilsafat seperti yang dilakukan Odeng (dalam bahasa Indonesia disebut tawon). Artinya setiap gerakannya itu mengandung makna dari “Galagar Odeng” itu, diimplementasikan dalam setiap gerakan tarian ciri khas LAK Galuh Pakuan nanti.

“Apa nilai-nilai dari “Galagar Odeng” itu filosofinya bagaimana, kemudian diimplementasikan dalam setiap gerakan. Dengan demikian ketika menciptakan gerakan tarian itu tidak hanya sekedar gerakan, tetapi harus melalui kajian filosofis. Dan tari ith ada musiknya, ada geraknya, ada riasnya dan ada kostumnya, yang semuanya harus fokus “Galagar Odeng” itu,” terang Nara.

Nara juga menyebutkan, identitas lainnya untuk LAK Galuh Pakuan selain melalui tarian “Galagar Odeng”, yaitu identitas budaya yang bisa dicerminkan ke kain batik misalnya, batik gakagar odeng, batik ganasan dan batik lainnya.

“Tidak hanya dari seni tari yang akan menjadi identitas LAK Galuh Pakuan, tetapi juga dari identitas budaya yang bisa dicerminkan melalui kain batik galagar odeng misalnya,” imbuhnya.

Nara menambahkan, ada beberapa hal lain yang bisa memperkuat LAK Galuh Pakuan yaitu tarian, batik dan festival. Sehingga keberadaan LAK Galuh Pakuan akan semakin dikenal di nusantara ini.

“Ketiga identitas ini nantinya akan memperkuat keberadaan LAK Galuh Pakuan, sehingga kiprah Raja LAK Galuh Pakuan Rahyang Mandalajati Evi Silviadi, semakin dikenal di seantero nusantara,” tandas Prof. Nara.(Ahy)


Like it? Share with your friends!

594

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *