Press ESC to close

Hebat! Saung Angklung Mang Koko Ubah Limbah Kayu Jadi Kerajinan yang Raup Untung Rp20 Juta Perbulan

  • December 16, 2018

DEJABAR.ID, PANGANDARAN-Koko Komarudin seorang seniman yang juga pemilik Saung Angklung Mang Koko di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat ini mengubah limbah kayu menjadi barang-barang atau souvenir antik.
Souvenir buatan Mang Koko itu banyak ragamnya, dimulai dari angklung yang berbahan baku Bambu, alat musik tradisional, pernik-pernak lainnya yang terbuat bahan baku limbah baku dari kayu jati. Selain itu juga ada patung biawak, kujang, patung kucing, suling, gantungan konci, tikar, kacamata, dan miniatur golok yang bahan baku dari limbah tanduk.
“Untuk harga gantungan kunci saya jual Rp5ribu, miniatur golok Rp25ribu, Kacamata di kisaran Rp450 ribu. Yang paling mahal itu tikar yang dari Kayu Sonokeling dan harus di anyam sehingga harganya pun mencapai Rp400-700 ribu persatu meter,” ujar Koko Komarudin kepada Dejabar.id, kemarin.
Koko mengaku, tidak mengalami kesulitan ketika memproduksi aksesorris ataupun pernak pernik lainnya dalam ukuran yang besar.
“Untuk yang berukuran besar tidak adan kesulitan, adapun kesulitan paling ketika membuat miniatur golok karena ukurannya kecil banget tapi bagi seniman justru menjadi sebuah tantangan,” katanya.
Ketika disinggung dari omset, pemilik saung aknglung mang koko ini mengaku mampu meraup keuntungan sekitar Rp20 juta dalam satu bulan.
“Omset tersebut dari pelanggan yang berada diluar Pangandaran, Yang pesan barang rata-rata dari Jakarta, Kalimantan, Bandung dan juga Korea,”ucapnya bangga.
Menurut Koko, aksesoris hasil buatannya yang masuk ke Korea itu berupa Kacamata dan Piring Steak.
“Keunikan dari kacamata buatan seniman seperti saya ini terbilang unik, karena kacamata dan piring steak tersebut menggunakan bahan dari kayu jati,” papar Koko.
Sementara itu, lanjut Koko, untuk penjualan angklung, gantungan konci serta aksesorris lainnya masih didominan anak-anak sekolah serta dinas yang ada di Pangandaran.
“Selain dari mencari keuntungan, secara tidak langsung saya juga membuka lapangan kerja bagi para seniman yang mempunyai kreatifitas terpendam. Karena itulah saya memberikan nama Saung Angklung Mang Koko yang merupakan tempat perkumpulan para seniman,” ungkapnya.
“Sampai saat ini alhamdulillah bahan baku aksesorris yang kami buat mash mengutamakan dari limbah kayu jati dan sonokeling. Dan limbah-limbah kayu tersebut tidak sulit dicari karena banyak seperti akar, potongan dari penggerajian serta lainnya yang bisa kami manfaatkan,” papar Koko.
Koko juga mengaku kerap mengikuti pameran dalam event-event besar seperti di Jakarta, Tangerang, Dago Bandung dan daerah lainnya.
“Perhatian dari Pemerintah setempat hanya melalui event seperti yang sekarang saung angklung mang koko sebagai perwakilan. dan juga sering ada pelatihan-pelatihan saja.
Kalau bantuan uang atau lainnya sampai saat ini belum ada,” pungkasnya.(dry)
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *