DEJABAR.ID, SUBANG – Pengembangan potensi pariwisata lokal di Kabupaten Subang memang terbilang bagus. Banyak kawasan wisata lokal yang kini bermunculan dan berubah menjadi industri pariwisata yang unjuk gigi.
Perkembangan dunia digital juga mendukung pengembangan pariwisata lokal ini, bayangkan saja dari genggaman tangan para turis lokal saja ribuan foto view tersebar di dunia maya.
Pemerhati pariwisata O. Hidayat mengatakan biaya promosi bisa berkurang karena peran medsos.
“Sekarang ini biaya iklan bisa jadi tak diperlukan lagi, karena peran medsos, dengan handphone semua orang bisa update status saat berwisata, orang juga bisa dengan mudah melihat foto tempat wisata di medsos, dan ini membuat orang tertarik datang kesana,” ungkapnya.
Menurutnya, daya saing perlu dimiliki tempat wisata di Subang agar tak kalah dengan tempat pariwisata yang sudah go publik, “Supaya tidak membodohi masyarakat selalu indah dan bagus tapi akhirnya pengunjung kecewa, mungkin karena tiket dan parkir mahal, banyak preman, jajanan mahal, kan warga juga senang datang ke tempat pariwisata yang murah dan terjamin keamanannya,” lanjutnya.
Dari segi faktor Managemen dan Kualitas Layanan Pengunjung, O.Hidayat juga menambahkan sarana pendukung kompleks pariwisata perlu juga berdasarkan banyak aspek.
Salah satu contoh pemberdayaan kawasan Wisata Pamoyanan di desa Kawungluwuk kecamatan Tanjungsiang Kabupaten Subang yang dalam 2 tahun trakhir jadi destinasi wisatawan domestik unggulan bahkan kini dikenal masyarakat Indonesia khususnya di Jawa Barat dan DKI. Pengembangan potensi secara kontinue terus dilakukan, Walaupun pada malam pergantian tahun 2018 memperlihatkan grafik penurunan pengunjung ratusan bahkan ribuan orang tetap memenuhi kawasan wisata ini, seperti diungkap Saeful Hayat, bagian keuangan tempat wisata tersebut.
“Untuk menjelang pergantian tahun 2018 ke 2019 terbilang agak berkurang pengunjungnya sampai dengan jam kurang lebih 19.00 wib karcis yang terjual baru 34 bundel/Pack dengan jumlah /packnya nya 100 lembar,” katanya
Dengan pengunjung sekitar 3400 orang tentu saja secara kuantitas merosot hingga 50%, “Sementara pada tahun pergantian tahun 2017 ke 2018 pada jam yang sama jumlah karcis yang terjual sebanyak 60 bundel lebih dan untuk harga karcisnya itu Rp.10 ribu/orang, karcis parkir motor Rp.5 ribu/motor dan mobil Rp10 ribu/mobil,” imbuhnya.
Dikatakan seorang pengunjung “Alam pamoyanan yang sudah di kenal ke mana – mana dan menjadi aset desa unggulan, mudah-mudahan bisa lebih maju walaupun untuk malam pergantian tahun 2018 ke 2019 pengunjungnya tidak seramai pada waktu pergantian tahun 2017 ke 2018,” ucap Ina, 25 seorang wisatawan lokal.
Faktor keamanan pengunjung juga menjadi alasan wisatawan, kasus kematian pengunjung di salah satu Curug di kawasan Subang Selatan sempat menjadi sorotan, faktor keselamatan pengunjung menjadi penting bagi pengelola dan wisatawan sendiri.(Ahy)
Leave a Reply