DEJABAR.ID, CIREBON-Jalan Pasuketan yang terletak di Kota Cirebon merupakan salah satu sentra perekonomian di Kota Cirebon. Di sini berjejer kawasan pertokoan mulai dari fashion, elektronik, meubel, bahkan makanan. Karena itu, kawasan ini kerap ramai dan macet oleh kendaraan, padahal jalur yang digunakan sudah satu arah.
Jalanan ini membentang dari lampu merah di gedung British American Tobacco (BAT), hingga lampu merah Pekiringan-Karanggetas. Siapa sangka jika kawasan pada penduduk di Jalan Pasuketan itu dulunya hanyalah kawasan rerumputan dan ilalang. Nama Pasuketan sendiri berasal dari kata ‘suket’ yang dalam Bahasa Cirebon artinya rumput.
Menurut sejarawan dan budayawan Cirebon, Bambang Irianto, Jalan Pasuketan dulu memang dipenuhi oleh rerumputan, yang biasa digunakan pakan ternak seperti kuda, sapi, dan kerbau. Karena pada masa dulu, kendaraan masih ditarik hewan seperti kuda.
“Bisa dikatakan, jalan Pasuketan dulunya merupakan pomp bensinnya, karena dulu kendaraan hanya ditarik oleh kuda, dan diberi makan rumput-rumput yang berada di kawasan Pasuketan,” jelasnya saat ditemui dejabar.id di rumahnya di Jalan Kesambi, Kota Cirebon, Jumat (22/3/2019).
Budayawan yang juga sekaligus dokter hewan ini melanjutkan, dulunya fungsi Jalan Pasuketan memang hanya sebagai kawasan pendukung dari kawasan Gemeente Cheribon, sebutan Kota Cirebon pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1906, yang pusatnya berada di kawasan sekitar BAT. Di kawasan BAT juga berdiri bangunan-bangunan sentra pemerintahan seperti bank, gedung perniagaan, sekolah, dan lain-lain.
Namun lambat laun, karena pusatnya berada di BAT, kawasan Pasuketan yang dulunya rumput dan sepi, mulai ramai dan didirikan bangunan-bangunan, terutama oleh orang-orang Tionghoa yang datang dan menetap di Cirebon. Sehingga lama-kelamaan, rumput-rumput di Pasuketan sudah tidak ada lagi.
“Sekarang sudah tidak ditemukan lagi rumput, karena sudah didirikan bangunan semua,” pungkasnya.(Jfr)
Leave a Reply