DEJABAR.ID, CIREBON-Insiden kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karang, Muara Gembong, Karawang, pada Senin (29/10/2018) kemarin, membuat spekulasi beragam bagi banyak orang. Salah satunya adalah pengamat penerbangan sekaligus dosen Transportasi Udara Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), Anton Octavianto.
Menurutnya, insiden tersebut merupakan duka dalam dunia industri penerbangan. Padahal, selama ini Indonesia sudah berusaha agar zero accident atau menurunkan tingkat kecelakaan pesawat.
“Bahkan beberapa maskapai sudah masuk dalam maskapai dengan zero accident terbaik di dunia,” jelasnya saat ditemui awak media di Kampus UMC II, Jalan Fatahillah, Sumber, Kabupaten Cirebon, Selasa (30/10/2018).
Sebagai pengamat penerbangan, saat ini dirinya masih belum bisa memastikan apa penyebab pesawat Lion Air JT-610 mengalami kecelakaan di perairan Karawang. Apalagi, Black Box yang menjadi barang bukti untuk mengetahui apa yang terjadi selama penerbangan belum ditemukan.
“Kita masih menunggu keputusan resmi dari KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi),” jelasnya.
Anton menjelaskan, pesawat Lion Air JT-610 tersebut merupakan pesawat baru yang diproduksi tahun 2017. Pesawat berjenis Boeing 737 Max 8 ini dirancang lebih aman dan nyaman bagi para penumpang. Salah satunya adalah kedap suara.
Tetapi, lanjutnya, meskipun pesawat tersebut barang baru, tetap saja masih ada berbagai kerusakan. Bisa saja terjadi kerusakan pada mesin, ataupun efek human eror, yang menyebabkan pesawat mengalami kecelakaan.
“Karena itu, black Box harus segera ditemukan agar apa yang terjadi dengan pesawat bisa diketahui,” tuturnya.
Menurut Anton, jikapun sebenarnya ditemukan masalah pada mesin saat penerbangan, pilot bisa meminta kepada operator di bandara untuk melakukan RTA (Return to Apron) dan RTB (Return to Base). Hal tersebut dilakukan untuk pengecekan pesawat. Biasanya hal ini dilakukan jika di daerah yang diterbangkan tersebut ada bandara.
Namun, jika daerah tersebut tidak ada bandara, seperti di laut misalnya, maka di dalam pesawat ada engineering on board atau teknisi mesin untuk mengecek permasalahan pada mesin. Mereka biasanya ikut dalam penerbangan pesawat, dan pastinya ada di tiap maskapai.
“Dari insiden ini, kemungkinan pilot meminta untuk RTB. Tapi tampaknya Tuhan berkata lain,” pungkasnya.(Jfr)
Leave a Reply