Press ESC to close

Kisah Suryat, Produsen Kue Gapit yang Bertahan di Tengah Gempuran Kue Modern

  • July 25, 2019

DEJABAR.ID, CIREBON – Kue gapit merupakan salah satu makanan khas Cirebon. Makanan tradisional ini berbentuk pipih tipis berwarna putih, berdiameter sekitar 3-5 sentimeter, dengan adanya motif kotak-kotak yang timbul. Makanan ini sangat cocok dinikmati sambil berkumpul dan ditemani minum kopi.

Meskipun makanan tradisional, namun tidak menyurutkan semangat Suryat Hidayat untuk memproduksi kue gapit. Karena, di tengah gempuran makanan-makanan modern yang mulai memasuki pasar, kue gapit tetap ada di hati masyarakat, dan kerap diburu.

Suryat menceritakan, dirinya berawal membuat kue gapit pada tahun 2002 silam. Dirinya mendapatkan kemampuan membuat kue gapit dari orang tuanya. Karena, orang tuanya juga merupakan produsen kue gapit yang sudah lama berkiprah. Sehingga, hal tersebut memudahkannya dalam mendapatkan ilmu pembuatan kue gapit.

Meskipun mendapatkan ilmunya dengan mudah, namun jalur terjal didapatnya ketika hendak memasarkan kue gapit hasil produksinya. Saat itu, dirinya mencoba menawarkan hasil produksinya ke penjual-penjual kue di pasar-pasar Kota Cirebon.

Awalnya banyak yang menolak tawaran kue gapit hasil produksinya. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk terus menawarkan dari toko ke toko. Hingga akhirnya, ada beberapa yang mau menerima kue gapit tawarannya.

“Saya belajar dari orang tua, tapi bumbunya hasil meracik sendiri, sehingga cita rasanya berbeda dengan orang tua,” jelasnya saat ditemui dejabar.id di kediamannya sekaligus pabrik tempat produksinya di Dawuan, Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, Kamis (25/7/2019).

Awalnya, dia hanya bisa memproduksi sedikit saja. Karena, kue gapit tidak bisa disimpan lama hingga berbulan-bulan. Untuk rasa yang original saja, maksimal hanya bisa bertahan hingga 2 mingguan. Apalagi, toko langganannya masih sedikit.

Kemudian, karena kue gapit buatannya mempunyai cita rasa yang khas dan berbeda dengan produsen lainnya, akhirnya produk gapitnya dengan merk Agung Jaya tersebut mulai banyak dilirik oleh pelanggan. Hingga akhirnya, Suryat menambah jumlah produksi.

Demi menambah varian rasa dalam gapitnya, Suryat pun bereksperimen dengan mencampur-campur rasa tertentu. Jika memang rasanya enak, maka dirinya akan memproduksinya. Namun jika tidak, maka dia akan mencari varian rasa lain sebelum diproduksi.

“Hingga sekarang sudah ada varian rasa kelapa, kacang, keju kacang, keju susu, dan keju udang. Yang paling banyak ya rasa original atau kelapa dan kacang,” tuturnya.

Kini, dalam sehari dirinya bisa memproduksi setengah kuintal adonan kue gapit. Dari jumlah segitu, dihasilkan kue gapit sebanyak 50 bal atau bungkusan berkisar 1-2 kg. Hasil produksinya kini dijual ke toko-toko pelanggan yang tersebar di wilayah Cirebon.

Dengan demikian, meskipun kini tengah bermunculan makanan-makanan dan kue modern yang lebih enak, namun kue gapit tetap diproduksi setiap hari. Karena, meskipun kue-kue modern bermunculan, kue gapit akan tetap diburu oleh masyarakat.

“Kita akan tetap mempertahankan cita rasa kue gapit. Kalau sudah tertarik dengan rasa, maka merknya akan ikut,” pungkasnya.(Jfr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *