Press ESC to close

Komunitas Hong, Surganya Permainan Tradisional Indonesia

  • September 27, 2018

DEJABAR.ID, BANDUNG – Di zaman yang sering disebut “Zaman Now” ini banyak sekali anak-anak yang sudah tidak perduli dengan lingkungan, sosial dan mungkin diri sendiri. Dengan bermodalkan gadget membuat kemampuan individual mereka kurang, kurang kreatif, anti sosial, serba instant dan malas bergerak.
Namun masih ada komunitas yang peduli akan hal ini, Komunitas Hong namanya. Berdiam di jalan Bukit Pakar Utama, Dago, komunitas ini merupakan surganya permainan tradisonal. Saat ini Komunitas Hong menyimpan 250 macam permainan anak tradisonal Sunda, 213 permainan tradisional Jawa Tengah dan Jawa Timur serta 50 jenis permainan dari Lampung.
Berdasarkan sejarahnya pada tahun 2008 secara resmi Komunitas Hong ini didirikan oleh Mohammad Zaini Alif dan dibantu oleh 150 anggotanya atau volunter.
“Pendirinya Kang Zaini, beliau yang mendirikan komunitas ini dulu pada tahun 2005,” ujar Hendra Sastradinata kepada Reporter Dejabar selaku anggota di Komunitas Hong, Kamis (27/9/2018).
Kang Zaini, sapaannya merupakan peneliti yang berhasil lulus S1 program Desain Produk dari kampus ITENAS dan S2 ITB . Lalu Kang Zaini berniat untuk melestarikan permainan Sunda. Ia bercita-cita ingin menghidupkan kembali khazanah permainan tradisional di Jawa Barat dan nusantara. Lalu dibentuklah komunitas ini pada tahun 2005. Kang Zaini sendiri mendapat penghargaan sebagai Social Entrepreneur dari British Council 2010 atas upayanya dalam memberdayakan masyarakat sekitar melalui Komunitas Hong.
Komunitas Hong ini membangun Museum Mainan Rakyat untuk meperkenalkan mainan pada rakyat terutama anak-anak. Selain di Bandung, museum komunitas ini juga berada di Subang, Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjungsiang.
“Di Subang juga ada museum kita, jadi kita mengelola dua tempat,” lanjutnya.
Banyak kegiatan agenda yang sering mereka adakan. Seperti Festival Kolecer yang dimana mainan rakyat diambil dengan upacara adat.
Bagi komunitas ini permainan tradisional bukan sekadar permainan, namun dibaliknya ada makna filosofi yang terkandung. Menurut anggota komunitas ini anak-anak khususnya harus belajar dan bermain. Tag line komunitas ini sendiri adalah ‘Mari Bermain, tapi Bukan Main-main’. Tagline yang terkandung pun memiliki makna yang luas.
“Semoga komunitas ini bisa menjadi tempat anak-anak untuk berkembang dan mengenal budayanya melalui permainan,” tutupnya. (eca)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *