Press ESC to close

Mahasiswa Asal Tasik Ini Bicara Soal Post Truth

  • May 1, 2019

DEJABAR.ID, TASIKMALAYA-Menyikapi persoalan yang sedang ramai terkait pendidikan sosial dimana keyakinan personal lebih berpengaruh (post truth), Khatibul Umam, Mahasiswa PPS Institut Agama Islam Cipasung mengungkapkan, bahwa post truth adalah sebuah kondisi dimana dalam pembentukan opini publik, emosi dan keyankinan personal jauh lebih berpengaruh dibandingkan dengan fakta-fakta, atau kebenaran yang sifatnya obyektif.
“Secara Sadar sekarang kita sudah memasuki era keterbukaan informasi yang sangat luas, bayangkan saja di bulan April Kemarin ada sekitar 130 juta lebih penduduk yang menggunakan sosial media. Dan jika dibandingkan dengan tahun lalu ada sekitar 23 persen peningkatan. Bisa dibayangkan bagaimana arus informasi sekarang ini, dapat dikatakan Indonesia sudah memasuki era post-truth,” terangnya, Rabu (01/05/2019).
Mengingat hal tersebut, Imam mengatakan keberadaan mahasiswa dalam menghadapi era post truth ini sangatlah penting, mengingat peran mahasiswa sebagai sumber informasi bagi mahasiswa dan setiap lapisan masyarakat dan kampus.
“Pastinya juga setiap kampus memiliki peran mahasiswa, yang menjadi Sumber pemberi informasi yang sangat dibutuhkan dimulai dari berbagai pengunaan grup WhatsApp dan beberapa Media Sosial lain. Coba Kita bayangkan Satu Orang Mahasiswa Mempunyai Media Sosial Berapa Varian? Kalikan Saja dengan Beberapa Mahasiswa yang ada di kabupaten Tasikmalaya?” tambahnya.
Selain itu, menurutnya, setiap media Sosial harus menjadi kontrol mahasiswa, dalam hal ini mengontrol sosial bagi kampus dan masyarakat, bukan sekedar menyebar informasi share keadaan yang terjadi dengan begitu pesat dan cepat.
Untuk melawan era post-truth ini, Imam mengatakan, bagi para mahasiswa kalau mau membuat tulisan harus yang berbasis data. “Kalau bukan berbasis data itu sekedar opini saja namanya, lantas apa yang membedakan tulisan kita sebagai mahasiswa dengan tulisan orang biasa kalau tidak bisa menyajikan data?. Harus ada data yang mendukung, serta fakta yang menjadi landasan. Bukan sekedar asumsi saja,” lanjutnya.
Sementara, dalam menjalankan peran kontrol sosial ini, Imam mengatakan, peran mahasiswa harus jadi kritikus tapi bukan kekritisan yang asal saja.
“Ya harus jadi kritis. Ini yang sangat diperlukan, tapi bukan kekritisan yang asal saja. Tapi merupakan kritis yang berdasarkan data, bukan hanya asal ngomong atau asal menilai saja. Tapi memiliki landasan yang kuat. Setiap tulisan juga harus dilengkapi dengan solusi, agar mahasiswa terbiasa untuk menjadi kritis yang optimis baik bagi dirinya tentu lingkungan nya,” terangnya.
Terakhir Imam mengatakan, mahasiswa harus mempunyai jiwa kritis yang optimis yang disertai dengan solusi akan sebuah perubahan yang baim.
“Jangan terbiasa menjadi negatif, kalau apa-apa kita lihat dengan kacamata negatif maka akan mempengaruhi kehidupan kita. Kan kita sebagai mahasiswa ini memiliki potensi untuk menjadi seorang pemimpin, baik di masyarakat khususnya dalam berbangsa dan bernegara Karna Generasi Masa depan Bangsa Indonesia adalah Kaum Muda dan Mahasiswa Sekarang yg terdidik,” terangnya.
Ia melanajutukan, mengutip dari Malxom X Berkata, “Pendidikan adalah tiket ke masa depan, hari esok dipunyai oleh orang-orang yang mempersiapkan dirinya sejak hari ini,” pungkasnya.(Ian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *