Menelusuri Jejak 'Terminal' Pedati Era Belanda di Cirebon


560
560 points
by @ubenartphotography – “Beauty Woman on Pedati Gede Pekalangan ditarik kerbau bule Andanu.

DEJABAR.ID, CIREBON – Sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan laut, Cirebon sudah berkembang menjadi kota pelabuhan sejak zaman dulu kala. Hasil-hasil pertanian diangkut dari wilayah pedalaman menuju pelabuhan, untuk kemudian dikirim ke wilayah-wilayah luar Cirebon.

Di era Belanda, transportasi yang dulu difavoritkan yakni kereta api. Namun, ada salah satu transportasi yang juga difavoritkan oleh masyarakat pribumi, yakni pedati yang biasanya ditarik oleh kerbau. Karena masih belum banyak yang memiliki pedati, maka pedati-pedati ini biasanya disewa oleh para pemiliknya, untuk mengakut barang-barang, baik itu menuju pelabuhan, ataupun ke tempat lain.

Karena banyaknya yang membutuhkan jasa angkutan pedati di wilayah Cirebon, akhirnya lama-kelamaan ada suatu wilayah yang menjelma menjadi semacam ‘terminal’ pedati. Terminal ini berfungsi sebagaimana terminal pada umumnya, yakni tempat singgah atau pemberhentian pedati-pedati yang ingin mengangkut barang.

Menurut Filolog Cirebon, Opan Safari, terminal pedati di Cirebon dulunya berada di sepanjang Jalan Pilang Raya, hingga ke Krucuk. Dulunya, di situ banyak terdapat pedati yang berjejer, untuk menawarkan jasanya. “Pedati zaman dulu seperti kendaraan truk di zaman sekarang. Ada pemiliknya yang menyewakan jasa pedati untuk mengangkut barang,” jelasnya, Sabtu (3/8/19).

Keberadaan pedati sebenarnya sudah ada sejak zaman Ki Gede Alang-alang. Saat itu, sudah ada pedati yang dinamakan Pedati Gede, yang ditarik oleh kerbau bule. Bahkan di daerah Kerangkeng, Indramayu, ada pedati-pedati yang berukuran lebih besar lagi sekitar tahun 1700-an. Namun, pedati-pedati saat itu memiliki roda banyak, sehingga sangat kesulitan ketika akan berbelok.

Ketika Belanda datang dan membuat kemajuan di bidang teknologi, salah satunya adalah transportasi, maka roda-roda pedati semakin menciut, dan hanya menyisakan dua roda saja, sehingga bisa berbelok. “Pedati semakin ke sini semakin menciut. Dulu roda-rodanya cukup banyak dan besar. Kini hanya dua roda saja, dan bentuknya juga kecil,” tuturnya.

Keberadaan terminal pedati di Cirebon sendiri, lanjutnya, sudah ada di zaman Belanda. Kebetulan, dulunya di situ ada yang memiliki banyak kerbau, bernama Pak Karma. Dia pun menyewakan pedati-pedati tersebut untuk mengangkut barang-barang seperti hasil panen. “Bahkan untuk mengangkut peralatan pertunjukan wayang kulit pun menggunakan pedati,” ujarnya.

Opan melanjutkan, keberadaan terminal pedati di sekitar Jalan Pilang masih ada sekitar tahun 1980 hingga awal-awal 1990, ketika jalannya masih belum diaspal. Ketika jalanan mulai diaspal dan kendaraan truk mulai dilirik untuk angkutan barang, maka lama-kelamaan para pemilik pedati pun mulai beralih profesi. “Terminal pedati pun lama-kelamaan menghilang,” tutupnya.(Jfr)


Like it? Share with your friends!

560
560 points