Menelusuri Jejak 'Terminal' Pedati Era Belanda di Cirebon


0
by @ubenartphotography – “Beauty Woman on Pedati Gede Pekalangan ditarik kerbau bule Andanu.

DEJABAR.ID, CIREBON – Sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan laut, Cirebon sudah berkembang menjadi kota pelabuhan sejak zaman dulu kala. Hasil-hasil pertanian diangkut dari wilayah pedalaman menuju pelabuhan, untuk kemudian dikirim ke wilayah-wilayah luar Cirebon.

Di era Belanda, transportasi yang dulu difavoritkan yakni kereta api. Namun, ada salah satu transportasi yang juga difavoritkan oleh masyarakat pribumi, yakni pedati yang biasanya ditarik oleh kerbau. Karena masih belum banyak yang memiliki pedati, maka pedati-pedati ini biasanya disewa oleh para pemiliknya, untuk mengakut barang-barang, baik itu menuju pelabuhan, ataupun ke tempat lain.

Karena banyaknya yang membutuhkan jasa angkutan pedati di wilayah Cirebon, akhirnya lama-kelamaan ada suatu wilayah yang menjelma menjadi semacam ‘terminal’ pedati. Terminal ini berfungsi sebagaimana terminal pada umumnya, yakni tempat singgah atau pemberhentian pedati-pedati yang ingin mengangkut barang.

Menurut Filolog Cirebon, Opan Safari, terminal pedati di Cirebon dulunya berada di sepanjang Jalan Pilang Raya, hingga ke Krucuk. Dulunya, di situ banyak terdapat pedati yang berjejer, untuk menawarkan jasanya. “Pedati zaman dulu seperti kendaraan truk di zaman sekarang. Ada pemiliknya yang menyewakan jasa pedati untuk mengangkut barang,” jelasnya, Sabtu (3/8/19).

Keberadaan pedati sebenarnya sudah ada sejak zaman Ki Gede Alang-alang. Saat itu, sudah ada pedati yang dinamakan Pedati Gede, yang ditarik oleh kerbau bule. Bahkan di daerah Kerangkeng, Indramayu, ada pedati-pedati yang berukuran lebih besar lagi sekitar tahun 1700-an. Namun, pedati-pedati saat itu memiliki roda banyak, sehingga sangat kesulitan ketika akan berbelok.

Ketika Belanda datang dan membuat kemajuan di bidang teknologi, salah satunya adalah transportasi, maka roda-roda pedati semakin menciut, dan hanya menyisakan dua roda saja, sehingga bisa berbelok. “Pedati semakin ke sini semakin menciut. Dulu roda-rodanya cukup banyak dan besar. Kini hanya dua roda saja, dan bentuknya juga kecil,” tuturnya.

Keberadaan terminal pedati di Cirebon sendiri, lanjutnya, sudah ada di zaman Belanda. Kebetulan, dulunya di situ ada yang memiliki banyak kerbau, bernama Pak Karma. Dia pun menyewakan pedati-pedati tersebut untuk mengangkut barang-barang seperti hasil panen. “Bahkan untuk mengangkut peralatan pertunjukan wayang kulit pun menggunakan pedati,” ujarnya.

Opan melanjutkan, keberadaan terminal pedati di sekitar Jalan Pilang masih ada sekitar tahun 1980 hingga awal-awal 1990, ketika jalannya masih belum diaspal. Ketika jalanan mulai diaspal dan kendaraan truk mulai dilirik untuk angkutan barang, maka lama-kelamaan para pemilik pedati pun mulai beralih profesi. “Terminal pedati pun lama-kelamaan menghilang,” tutupnya.(Jfr)


Like it? Share with your friends!

0

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format