Press ESC to close

Mengenal Dede Ukir, Seniman Ukir Kayu Otodidak Asal Cirebon

  • January 28, 2019

DEJABAR.ID, CIREBON – Seni ukir kayu merupakan kesenian yang sangat penting, terutama untuk memperindah perabotan atau pun lainnya. Tidak jarang, kesenian ini dilakukan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Namun, seiring perkembangan zaman, tampaknya para pengrajin seni ukir kayu sangat jarang terlihat.
Meskipun begitu, seni ukir ini tidak hanya diwariskan secara turun-temurun saja. Mereka yang tidak memiliki basic ilmu ukir kayu pun masih bisa mempelajari ilmu ini. Bahkan, ada yang melakukannya secara otodidak, seperti salah satu pengukir kayu yang ada di Desa Kaliwulu Blok Desa Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon.
Adalah Sundiana, pria berusia 36 tahun ini merupakan satu-satunya pengukir kayu yang ada di Desa Kaliwulu tersebut. Padahal, desa Kaliwulu dikenal dengan produksi kayu meubelnya yang bagus.
Pria yang akrab disapa Dede Ukir ini menceritakan, dirinya tidak ada turunan dari keluarga yang mempunyai latar belakang seni ukir kayu. Butuh waktu 10 tahun bagi Dede Ukir untuk mempelajari seni ukir kayu secara otodidak. Bahkan, dia mempelajarinya sejak usia 16 tahun, karena waktu itu dia tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
“Daripada bingung tidak ngapa-ngapain, jadi saya mempelajari seni ukir dari senior,” jelasnya saat ditemui Dejabar.id di rumahnya sekaligus tempat produksi ulirnya, Minggu (27/1/2019).
Setelah 10 tahun belajar seni ukir, Dede mulai memberanikan diri untuk membuka usaha ukir kayu. Dan hingga sekarang, tepatnya 10 tahun kemudian setelah membuka usahanya, seni ukirnya semakin dilirik oleh banyak orang, karena hasilnya yang bagus, rapi, dan detail.
Dalam membuat ukiran, Dede selalu menggunakan kayu jati. Karena, selain mudah ditemukan di daerah Cirebon, kayu jati terkenal sangat kokoh dan kuat, serta tidak mudah lapuk.
“Pernah coba pakai kayu lain, tapi kualitasnya tidak sebagus kayu jati,” tuturnya.
Adapun tahapan dalam mengukir kayu, pertama-tama dia membuat polanya terlebih dahulu di kayu yang akan dipahat. Kemudian, mulai dipahat mengikuti pola tersebut. Lalu dihaluskan, dan finishing termasuk cat. Untuk mengerjakan satu buah ukiran, Dede membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan, tergantung rumitnya desain.
Dede sendiri saat ini baru mengerjakan ukiran patung dan kusen saja. Mayoritas desain ukirannya bermotif Mega Mendung, sebuah motif seperti awan yang merupakan ciri khas Cirebon.
Meskipun seni ukirnya didapat secara otodidak, namun Dede berani menjual hasil karya ukirannya cukup mahal. Harganya pun dimulai dari Rp 15 juta ke atas, tergantung dari kerumitan desainnya. Untuk pembelinya, masih di sekitar wilayah Cirebon saja.
“Alhamdulillah sudah mulai dikenal di wilayah Cirebon,” pungkasnya.(Jfr)
 
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *